JAKARTARAYA – Perumda Dharma Jaya berencana membangun kandang sapi baru dan kawasan peternakan terintegrasi di Ciangir, Kabupaten Tangerang, Banten.
Pembangunan kandang sapi di Ciangir ini memanfaatkan lahan milik Pemprov DKI seluas 100 hektare. Karena lahan di Serang seluas 12 hectare, mengalami perubahan peruntukan menjadi zona agrowisata.
Proyek kandang di Ciangir ini bertujuan mengatasi keterbatasan kapasitas penampungan sapi, dengan target awal menampung 1.000 ekor dalam satu periode pengadaan.
Penggemukan sapi merupakan pekerjaan yang terukur secara profesional. Pemilihan lokasi kandang sapi harus mempertimbangkan banyak hal, terutama terkait dasar-dasar lingkungan.
Selain bidang peternakan, potensi yang dimiliki kandang sapi adalah dalam bidang pertanian dan perkebunan.
Berdasarkan data monografi desa, luas wilayah Desa Ciangir yang terletak di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, ini adalah sekitar 344,9 hektar. Mayoritas berupa lahan pertanian dan perkebunan.
Merujuk dialog dengan dokter hewan Perumda Dharma Jaya, dr. Diki Firmansyah, bahwa faktor lingkungan kandang sangat mempengaruhi proses penggemukan ternak.
Lingkungan yang tidak tepat bisa membuat ternak stres, nafsu makan turun, pertumbuhan lambat, bahkan mudah sakit. Sebaliknya, kandang yang baik membuat ternak lebih nyaman, makan lebih banyak, dan pertumbuhan lebih cepat.
Mengingat faktor lingkungan kandang sangat berpengaruh dalam penggemukan sapi, maka suhu juga harus disesuaikan.
Jika suhu lingkungan kandang terlalu panas, ternak akan stress dan nafsu makan akan menurun. Namun suhu terlalu dingin, ternak akan mengeluarkan banyak energi, sehingga pakan hanya dipakai untuk menghangatkan tubuh, bukan untuk pertumbuhan.
Oleh sebab itu, lingkungan dasar kandang harus menjadi pertimbangan utama. Membangun kandang sapi di Desa Ciangir, merupakan pilihan yang baik dan tepat.
Dengan suhu udara antara 29,5 derajat celcius sampai dengan 27,5 derajat Celcius, dan kelembapan 72% sampai 83%, Desa Ciangir sangat cocok untuk lokasi kandang sapi milik Perumda Dharma Jaya.
Hal lain yang harus jadi perhatian adalah terkait pengelolaan limbah kotoran sapi. Kotoran sapi mengandung Amonia, yang secara umum jika diolah dapat memberikan manfaat.
Amonia adalah gas tak berwarna, baunya menusuk, terdiri atas unsur nitrogen dan hidrogen (NH3 ). Zat Amonia mudah sekali larut dalam air. Senyawanya banyak dipakai dalam pupuk, obat-obatan, dan sebagainya.
Karena unsur Amonia dalam kotoran sapi, maka sirkulasi udara (ventilasi) dalam kandang harus bagus. Udara harus mengalir dengan baik, agar Amonia dari kotoran sapi tidak menumpuk. Ventilasi yang buruk bisa menyebabkan penyakit pernapasan dan nafsu makan ternak menurun.
Penting untuk diingat bahwa amonia dalam bentuk gas sangat beracun bagi manusia dan hewan, jika terhirup dalam jumlah yang cukup besar. Sehingga kebersihan kandang menjadi sangat penting. Kandang yang kotor memicu bakteri, parasit, dan penyakit.
Limbah kotoran sapi merupakan isu global yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Salah satu contoh signifikannya pada permasalahan lingkungan dan sosial.
Sifat limbah ternak yang mudah menyebar pada media air dan udara mengakibatkan potensi jangkauan pencemarannya menjadi luas. Tidak hanya di wilayah peternakan, namun juga berdampak pada warga yang tinggal di sekitar lokasi kandang. Mereka berpotensi terkena dampak pencemarannya.
Permasalahan limbah kotoran sapi pada lingkungan ini menciptakan tantangan pengelolaan limbah ternak yang strategis dan efektif, sehingga tidak merusak tatanan ekosistem dan struktur sosial yang terbentuk pada warga yang tinggal dekat area peternakan.
Beberapa alasan mengapa amonia bisa berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup lain:
- Amonia cenderung bereaksi dengan air dalam tubuh manusia atau lingkungan untuk membentuk ion hidroksida (OH-) yang bersifat basa. Kontak yang berlebihan dengan amonia dapat menyebabkan iritasi, luka bakar, atau kerusakan jaringan pada kulit, mata, saluran pernapasan, dan sistem pencernaan.
- Menghirup amonia dalam bentuk gas dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, dan bahkan kerusakan paru-paru. Jika konsentrasi yang tinggi, amonia dapat mengiritasi paru-paru dan menyebabkan edema paru-paru atau bahkan kegagalan pernapasan.
- Yang sering terlupakan adalah bahwa Amonia dalam konsentrasi yang tinggi di dalam air, dapat menyebabkan keracunan pada organisme air seperti ikan dan organisme akuatik lainnya.
- Zat Amonia yang terkumpul dalam tubuh manusia atau hewan, dapat mengganggu fungsi normal organ. Sistem akumulasi amonia yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ dan bahkan berpotensi fatal.
Amonia adalah zat yang dapat bereaksi dengan beberapa bahan kimia lain, sehingga zat ini bisa berbahaya namun juga bermanfaat.
Oleh karena itu, penting untuk menghindari paparan yang berlebihan terhadap amonia dan mematuhi langkah-langkah keselamatan yang tepat saat bekerja dengan zat ini.
Oleh sebab itu, Perumda Dharma Jaya sangat serius memahami tentang pentingnya pengelolaan lingkungan kandang sapi di Ciangir, Kabupaten Tangerang ini.
Dirut Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, mengatakan bahwa proses pembangunan kandang sapi di Ciangir ini sejak awal sudah harus terintegrasi dalam pengelolaan limbah yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Kami mengetahui banyak hasil penelitian atas pemanfaatan limbah kotoran sapi, serta pengelolaan lingkungan dengan indikator sekitar yang terkontrol. Sehingga membangun mitra strategis dalam pengelolaan limbah kotoran sapi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Kami ingin Kandang Penggemukan Sapi di Ciangir ini benar benar GO Green,” tegasnya.
Mengolah Kotoran Sapi Jadi Bernilai Ekonomi
Berikut adalah beberapa cara mengelola kotoran sapi agar bernilai ekonomis:
- Pembuatan Pupuk Organik (Kompos & Bokashi): Kotoran sapi didiamkan (ditiriskan) selama satu minggu, dicampur dengan bahan organik (ampas gergaji, abu sekam, kapur), dan difermentasi dengan dekomposer (seperti EM4/Stardec) hingga menjadi kompos berkualitas tinggi yang bisa dijual.
- Produksi Biogas: Kotoran sapi diproses dalam biodigester untuk menghasilkan biogas sebagai energi alternatif memasak atau penerangan, sementara limbah lumpur hasil biogas (slurry) masih bisa dijadikan pupuk organik cair/padat.
- Media Budidaya Cacing: Kotoran sapi, setelah melalui proses fermentasi, dapat dimanfaatkan sebagai media untuk budidaya cacing obat, yang memiliki nilai jual tinggi.
- Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC): Urine sapi diproses melalui fermentasi (dicampur gula merah, EM4, air) selama 1-2 minggu untuk menjadi pupuk organik cair yang kaya unsur hara.
- Bioarang/Briket: Kotoran sapi kering dicetak menjadi briket untuk bahan bakar alternatif.
- Eco-Enzyme: Air sisa pencucian kotoran sapi dapat diolah menggunakan metode eco-enzyme untuk menghasilkan cairan pembersih, yang juga berguna mengurangi pencemaran lingkungan. (DM)


Tinggalkan Balasan