JAKARTA RAYA – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan perempuan memiliki peran strategis sebagai penggerak utama ekosistem pariwisata Indonesia. Tidak hanya menjadi bagian besar dari tenaga kerja sektor pariwisata, perempuan juga berperan sebagai pelaku UMKM, penjaga budaya, pengelola destinasi, hingga pemimpin komunitas wisata.

Hal tersebut disampaikan Ni Luh Puspa saat membuka Women’s Leadership Forum 2026 bertema “Women Leading Tourism: Membangun Destinasi yang Berkelas Dunia melalui Kepemimpinan, Inovasi, dan Kolaborasi” di Kantor Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta, Senin (27/7/2026).

“Penggerak utama sektor pariwisata itu adalah perempuan. Data UN Tourism juga menunjukkan bahwa 54 persen pekerja di sektor pariwisata adalah perempuan,” ujar Ni Luh.

Menurutnya, kontribusi perempuan terlihat hampir di seluruh rantai nilai industri pariwisata. Mulai dari pengelola desa wisata, pemilik homestay, pelaku UMKM kuliner dan kriya, perajin, penenun, pemandu wisata, hingga para penjaga seni dan tradisi lokal yang menjadi identitas destinasi Indonesia.

Ni Luh menjelaskan, kekuatan utama pariwisata Indonesia bertumpu pada kekayaan alam dan budaya. Dalam dua aspek tersebut, perempuan memiliki kontribusi besar sebagai pelaku usaha, pemimpin komunitas, penggerak ekonomi lokal, sekaligus penjaga nilai budaya.

Ia menilai peran perempuan telah menjadi fondasi penting dalam membangun sektor pariwisata Indonesia yang semakin kompetitif di tingkat global.

“Perempuan di sektor pariwisata memiliki peran yang sangat besar dalam memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tingkat internasional,” katanya.

Di berbagai desa wisata, perempuan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif. Mereka mengembangkan usaha kuliner lokal, mengelola penginapan, membuat kerajinan tangan, menjaga warisan budaya, hingga memperkenalkan produk khas daerah kepada wisatawan.

Meski memiliki kontribusi besar, Wamenpar mengakui masih terdapat tantangan yang perlu diselesaikan, terutama terkait kesempatan perempuan untuk menduduki posisi kepemimpinan dan memperoleh peluang ekonomi yang setara.

Menurutnya, sektor pariwisata memang menjadi salah satu sektor ekonomi yang inklusif karena melibatkan banyak tenaga kerja perempuan. Namun, representasi perempuan dalam posisi strategis masih perlu diperkuat.

Ia mencontohkan dalam industri perhotelan, perempuan masih banyak ditempatkan pada posisi tertentu seperti pemasaran, sementara kesempatan untuk menduduki posisi pimpinan utama belum sepenuhnya merata.

“Masih ada anggapan perempuan hanya menjadi pelengkap. Padahal tanpa perempuan, ekosistem pariwisata tidak akan bergerak,” ujar Ni Luh.

Karena itu, ia mendorong adanya langkah afirmatif yang mampu membuka akses lebih luas bagi perempuan untuk berperan dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinan sektor pariwisata.

Wamenpar menyampaikan Kementerian Pariwisata terus menunjukkan komitmen terhadap kesetaraan gender. Saat ini, posisi Menteri Pariwisata dan Wakil Menteri Pariwisata sama-sama diemban oleh perempuan.

Menurutnya, pemimpin di sektor pariwisata tidak hanya dituntut mampu mengambil keputusan, tetapi juga harus dapat membangun kolaborasi, menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, serta menjadi penggerak inovasi.

“Menterinya perempuan dan wakil menterinya juga perempuan. Jadi, kami di sana sangat menjunjung tinggi kolaborasi. Pemimpin pariwisata adalah pemimpin yang menjadi kolaborator, orkestrator, dan juga katalisator,” ungkapnya.

Menutup forum tersebut, Ni Luh Puspa mengajak perempuan di sektor pariwisata untuk terus memperkuat jejaring, meningkatkan kapasitas kepemimpinan, dan membuka lebih banyak ruang kolaborasi.

Menurutnya, memberikan kesempatan kepada perempuan bukan hanya tentang menghadirkan pemimpin perempuan, tetapi juga menciptakan peluang yang lebih luas bagi generasi mendatang.

“Memberikan akses kepada perempuan dan memberikan kepercayaan kepada perempuan bukan hanya soal menjadikan seorang perempuan sebagai pemimpin. Lebih dari itu, kita sedang menciptakan masa depan, membuka peluang, dan melahirkan generasi-generasi yang lebih baik,” pungkas Ni Luh. (hab)