JAKARTA RAYA – Sebagai informasi, selain Kuntilanak Nusantara juga mengenal hantu-hantu lain seperti Matianak, sebutan kuno di pulau Bawean.
Buntianak / Kuturui: Sebutan masyarakat di wilayah Kupang dan Nusa Tenggara dan Langsuir / Pontianak: Sebutan dalam folklore masyarakat Melayu di semenanjung Malaya, Singapura, dan Kalimantan.
Baik kita mulai. Penelitian soal kuntilanak ini sebenernya tak sengaja. Berawal dari inisiatif seorang antropolog asal Jerman, Timo Duile, yang juga pengajar dan peneliti di Universitas Bonn yang ingin melakukan penelitian lapangan selama enam bulan di Kalimantan Barat.
Fokus awal risetnya adalah meneliti konsep alam dalam cara pandang masyarakat dan aktivis Dayak. Nah dia tinggal selama 6 bulan di Kalimantan pada tahun 2014. Namun, selama proses ini ia banyak bersentuhan dan mendengar mitos hantu lokal bernama Kuntilanak.
Ia kemudian mencoba mencari tahu, mengapa mitos ini muncul.
Ia membaca tulisan para sejarawan dan catatan kolonial Belanda yaitu Jan Johannes Kornelis Enthoven, 1851–1925), seorang Kepala Dinas Topografi (Head of Topographical Service) pemerintah kolonial Hindia Belanda di Batavia dan P.J. Veth (Pieter Johannes Veth), seorang profesor dan geograf Belanda terkemuka yang memelopori studi etnografi Kalimantan Barat melalui bukunya yang sangat terkenal, Borneo’s Wester-Afdeeling (1854).
Sebagai perwira topografi, Enthoven memimpin pemetaan wilayah pedalaman Kalimantan Barat, terutama menyusuri daerah aliran sungai Kapuas.
Karya Monumentalnya berupa catatan perjalanan dan hasil risetnya dibukukan dengan judul Bijdragen tot de geographie van Borneo’s Wester-afdeeling (Kontribusi bagi Geografi Wilayah Barat Kalimantan) yang diterbitkan oleh E.J. Brill di Leiden pada tahun 1901–1903.
Bukunya menjadi salah satu sumber primer sejarah paling lengkap yang mencatat batas wilayah, peta sungai, topografi, pola perdagangan, hingga etnografi suku-suku Dayak dan komunitas Tionghoa di Kalimantan Barat kala itu.
Baik J.J.K. Enthoven maupun P.J. Verth menulis tentang mitos kuntilanak (yang dalam ejaan kolonial lama dan bahasa Melayu setempat ditulis sebagai Puntianak atau Boentianak) di dalam catatan mereka bahwa suara-suara menakutkan yang dianggap “kuntilanak” sangat populer sejak sultan pertama Pontianak yang berasal dari Yaman, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie pada tahun 1771 yang menyusuri Sungai Kapuas untuk mencari lokasi pemukiman baru.
Dikisahkan, saat tiba di titik pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, rombongannya mulai membuka lahan di sebuah pulau yang dipenuhi hutan lebat (sekarang dikenal sebagai area Beting). Sultan memerintahkan untuk membabat hutan demi membangun kota yang baru, namun Konon, selama proses penebangan pohon, para pekerja terus diganggu oleh suara tangisan dan penampakan hantu Kuntilanak yang sangat menyeramkan. Gangguan ini membuat nyali para pekerja ciut dan menghambat proyek.
Untuk mengusir makhluk tersebut dan membangkitkan keberanian pasukannya, Sultan melepaskan tembakan meriam ke arah hutan. Di mana pun peluru meriam itu jatuh, di sanalah pembersihan lahan akan dipusatkan.
Suara dentuman meriam yang dahsyat dipercaya berhasil menakuti para “hantu” sehingga mereka pergi meninggalkan kawasan tersebut.
Konon, lokasi di mana peluru meriam tersebut jatuh ditandai sebagai tempat aman dan strategis. Di lokasi-lokasi itulah kemudian dibangun pemukiman yang kelak menjadi Kesultanan Pontianak.
Tiga lokasi penting yang berkaitan dengan kejadian ini adalah tempat berdirinya Istana Kadriyah, Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman, dan wilayah pemakaman.
Orang lokal mengatakan, suara itu bukan dari hantu tapi dari kawanan bajak laut (perompak) atau suku lokal yang bersembunyi di rimbunnya hutan untuk mempertahankan wilayah mereka.
Istilah kuntilanak juga menurut Duile, berakar dari kata “Pohon Punti” (pohon-pohon tinggi yang mendominasi hutan rawa Kalimantan.
Melalui catatan kolonial tersebut, Dr. Timo Duile, membongkar bahwa mitos kuntilanak bukan sekadar cerita hantu biasa, melainkan simbol peradaban (modernitas Islam-Melayu) yang sedang mengonversi hutan belantara yang liar dan sakral menjadi sebuah pelabuhan perdagangan.
Sementara itu, peneliti Indonesia Nadya Karima Melati, pada risetnya yang berjudul “Monsterisasi Perempuan dan Monoteisme” melanjutkan penelitian tersebut dan menawarkan konsep tentang roh perempuan yang meninggal saat melahirkan (perempuan mati beranak) merupakan wujud dari ketakutan purba masyarakat terhadap tingginya angka kematian ibu saat persalinan.
Mitos ini diciptakan sebagai representasi trauma sosial tersebut. Ia menambahkan, pada era pra-kolonial (animisme), roh-roh ini dihormati.
Namun, ketika agama monoteisme dan sistem patriarki masuk, pandangan terhadap roh pelindung alam/perempuan bergeser menjadi sosok monster atau hantu menyeramkan (kuntilanak) untuk menggambarkan trauma sosial tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa sosok kuntilanak merupakan bagian dari budaya tutur yang berevolusi, di mana hantu ini sering digambarkan sebagai pelampiasan dendam atau simbol ketakutan masyarakat akan kematian tragis.
Sementara itu, Prof. Dr. Jakob Soemardjo, sama dengan masyarakat Dayak, masyarakat Sunda menganggap daerah pertemuan sungai adalah daerah sakral atau tabù dan suci, dikenal dengan kabuyutan.
Dunia modern mulai memahami, bahwa tabù atau ruang sakral yang diterapkan oleh suku purba, sejatinya adalah mitigasi kebencanaan pada kawasan rawan agar jangan rusak karena dihuni manusia dan berpotensi membahayakan karena rentan bencana.
Jakob menambahkan, dalam masyarakat adat di seluruh Nusantara, tanah dan hutan adalah sang Ibu, sang perempuan, sang rahim dari tanah dan rahim lah munculnya benih kehidupan.
Jadi bisa dibilang, tangisan kuntilanak adalah representasi seorang perempuan yang merasa tanahnya diperkosa dan direnggut yang tanah atau rahimnya dihamili oleh jiwa perusak yang toksik dan janinnya lahir mati karena ia mengandung dalam nestapa, dia pun mati karena frustasi dan depresi.
Artinya, kuntilanak sesungguhnya bukan kisah perempuan binal yang mati karena melahirkan anak tanpa ayah.
Kuntilanak adalah tangisan bumi, ketika manusia tak lagi hormat pada tanahnya, ketika manusia tega menggunakan manipulasi, kekerasan dan meriam untuk mengeksploitasi tanahnya dan mematikan generasi selanjutnya akibat keserakahan. Tidak percaya? Lihat kalimantan sekarang, tragis!
Kuntilanak adalah representasi tangisan seorang Ibu yang kehilangan tanah dan sumber daya alamnya akibat pembabatan hutan, apalagi di daerah pertemuan sungai kerap dianggap sebagai wilayah sakral.
Penggunaan narasi “hantu” oleh masyarakat saat itu membuktikan bahwa konsep kuntilanak tampak sengaja digunakan sebagai kambing hitam atas fenomena yang tidak bisa mereka jelaskan, terutama ketika mereka dengan sadar mereka sedang merusak rahim ibu Pertiwi.
Jadi kalau Kuntilanak menganggumu, lihatlah, mungkin ada kerusakan sumber daya alam hayati di sekitar tempat tinggalmu. Berani cek ricek?
(Ditulis oleh Rieska Wulandari dari Milan, Italia)


Tinggalkan Balasan