JAKARTA RAYA — Gelombang aksi mogok massal dan pemblokiran jalan oleh ribuan sopir truk logistik (tir) telah melumpuhkan total wilayah Italia bagian selatan selama beberapa hari terakhir.

Akibat terputusnya rantai pasok barang, rak-rak di berbagai supermarket besar di kawasan Campania, Sisilia, hingga Calabria kini dilaporkan kosong melompong.

Aksi mogok ini dipicu oleh lonjakan drastis harga bahan bakar solar (diesel) yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.

Para sopir truk memprotes tingginya biaya operasional yang membuat bisnis transportasi mereka merugi.

Sebagai bentuk protes, mereka memarkirkan armada dan memblokade jalur tol utama nasional, termasuk tol A1 arah Napoli dan tol A30 (Caserta-Salerno), memicu kemacetan hingga puluhan kilometer.

Dampak kelumpuhan ini langsung memukul kebutuhan harian masyarakat. Di kota Napoli dan sekitarnya, komoditas pangan segar seperti sayur, buah, daging, dan produk susu menghilang dari pasar.

Bahkan, industri keju buffalo mozzarella yang menjadi kebanggaan wilayah Campania terpaksa menghentikan produksinya.

Jutaan liter susu segar terbuang sia-sia di peternakan karena truk pengangkut tidak bisa melintas menuju pabrik pengolahan.

Krisis tidak berhenti di sektor pangan. Ratusan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah selatan terpaksa tutup karena kehabisan stok bensin dan solar.

Sektor industri berat pun ikut terdampak; raksasa otomotif Stellantis terpaksa menghentikan sementara operasional pabrik mereka di Cassino akibat ketiadaan pasokan komponen dari sektor logistik.

Menanggapi situasi darurat ini, Perdana Menteri Giorgia Meloni mengambil langkah ganda.

Di satu sisi, pemerintah bertindak tegas terhadap oknum demonstran yang melakukan intimidasi di jalan raya.

Di sisi lain, Dewan Menteri (Cdm) secara kilat menyetujui dekret darurat berupa alokasi bantuan dana sebesar €105 juta untuk kredit pajak bahan bakar bagi sektor angkutan.

Berkat mediasi ketat antara prefektur lokal dan komite sopir truk, sebagian besar blokade jalan di Sisilia dan wilayah selatan lainnya mulai dibuka secara bertahap pada Jumat (23/10/2026).

Distribusi barang perlahan kembali berjalan, meskipun asosiasi ritel memperkirakan butuh waktu beberapa hari agar pasokan di supermarket kembali normal sepenuhnya.

Namun, masyarakat Italia diminta untuk tetap bersiaga. Di wilayah Calabria, serikat Fedralog menegaskan aksi mogok mandiri mereka masih akan bertahan hingga 27 Oktober.

Selain itu, serikat pekerja nasional (CIB-UNICOBAS) juga telah mengumumkan ancaman Sciopero Generale (Mogok Kerja Massal) berskala nasional pada 30 Oktober 2026 mendatang yang diprediksi akan kembali melumpuhkan sektor transportasi umum dan kereta api di seluruh penjuru Italia.

Persiapan Demo

Demo untuk besok, Sabtu, 24 Oktober 2026, diperkirakan akan menjadi Aksi protes susulan yang telah dijadwalkannsecara masif di kota Roma, berpusat di Circo Massimo, Milan, Florence, Bologna, Turin, Genoa, dan Bari.

Aparat kepolisian Italia bersiaga penuh. Kota Roma diturunkan sekitar 1.500 agen keamanan untuk mencegah terjadinya penjarahan seperti model kerusuhan Milan.

Di Milan sendiri, area pusat perbelanjaan dan wisata seperti Piazza Duomo dan San Babila telah dilarang untuk dijadikan titik konvoi, mengantisipasi kerusuhan yang terjadi pekan lalu , tepatnya pada 17-18 Oktober, protes yang harusnya berlangsung damai di Milan dan Bologna berujung pada guerrilla urbana (perang kota).

Sekelompok massa bertudung membakar tempat sampah, menghancurkan kaca-kaca pertokoan mewah di Piazza Duomo, dan bentrok dengan polisi. (Rieska Wulandari)