JAKARTA RAYA – Teatro alla Scala di Milano sukses menyelenggarakan edisi kedua forum internasional “FUTURA 2026 – Nuovi sguardi per la Cultura” pada 2 Oktober 2026 yang diinisiasi oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Region/Wilayah Lombardia, Italia, Francesca Caruso .
Edisi FUTURA kali ini mengusung filosofi unik: kekuatan pertanyaan sebagai mesin inovasi. Forum ini tidak berfokus mencari satu jawaban mutlak, melainkan memantik dialog lintas disiplin dan lintas generasi untuk melahirkan gagasan-gagasan radikal baru.
Dalam pidato pembukaannya, Asesor Francesca Caruso menegaskan perubahan paradigma yang sangat relevan dengan visi Indonesia: “Kita harus menyampaikan pesan kuat bahwa budaya adalah investasi, sebuah tuas ekonomi dan sosial yang masif bagi wilayah kita, bukan sekadar pelestarian masa lalu.”
Wilayah Lombardia membuktikan visi ini dengan memamerkan pencapaian ekonomi budaya bernilai €33 miliar dan angka kunjungan wisata yang menembus 55 juta orang.
Indonesia perlu bercermin dari gelaran yang menawarkan cetak biru krusial dalam mensinergikan kebijakan, komersialisasi budaya, dan penguatan ekonomi kreatif tanpa kehilangan identitas nasional.
Salah satu fokus utama FUTURA 2026 adalah membawa budaya keluar dari gedung-gedung megah perkotaan ke ruang publik sehari-hari, serta mempromosikan warisan budaya di kota-kota kecil (piccoli comuni).
Indonesia tentu saja dapat selaras dengan program pengembangan Desa Wisata dan pemanfaatan dana Indonesia, dengan menggunakan data kunjungan museum yang masif yaitu 12,4 juta kunjungan.
Maka untuk mendorong wisatawan agar bersedia menjelajahi daerah pelosok, pemerintah daerah perlu memaksimalkan potensi ekonomi UMKM lokal melalui storytelling budaya.
Adalah benar bahwa FUTURA 2026 didukung penuh oleh raksasa keuangan seperti Stefano Lucchini (Chief Institutional Affairs, Intesa Sanpaolo dan tokoh industri seperti Maria Porro, Presiden Salone del Mobile.
Ini membuktikan bahwa industri berat dan lembaga keuangan melihat nilai profitabilitas nyata dalam ekosistem seni.
Maka bercermin pada hal itu, Indonesia sudah memiliki inisiatif domestik seperti forum bisnis Jakarta Futura Connectiva (JFC) 2026 yang mempertemukan kreator kekayaan intelektual (IP) lokal dengan investor global.
Namun, model kolaborasi di La Scala menegaskan bahwa pemerintah Indonesia perlu memperbanyak insentif pajak bagi korporasi besar yang mendanai restorasi cagar budaya atau festival seni independen.
Dipandu oleh kurator seni kontemporer populer Nicolas Ballario, acara ini sengaja mempertemukan seniman legendaris seperti Emilio Isgrò dengan seniman jalanan (street artist) muda seperti Greg Goya, yang memamerkan instalasi interaktif bola dunia raksasa bernama “Atto Futuro” tepat di depan halaman Teatro alla Scala.
Indonesia memiliki bonus demografi yang mendominasi konsumsi budaya digital. Pendekatan membumi seperti yang dilakukan Greg Goya di Italia menunjukkan bahwa situs bersejarah seperti Candi Borobudur, Kota Tua Jakarta, atau Istana Kedaton di berbagai daerah tidak boleh kaku.
Mereka harus menjadi kanvas interaktif bagi seniman digital, kreator gim, dan kreator komik muda lokal untuk mengekspresikan narasi masa depan.
Dalam diskusi panel, para delegasi sepakat bahwa di tengah arus penyeragaman global akibat globalisasi, identitas budaya lokal yang kuat adalah garis pertahanan utama sebuah bangsa agar tidak sekadar menjadi konsumen anonim.
Sebagai bangsa dengan ratusan suku, Indonesia tidak boleh hanya mengekor tren pop global. Nilai-nilai gotong royong, filosofi tenun, hingga arsitektur nusantara harus ditarik ke masa depan melalui inovasi—mengawinkannya dengan teknologi modern (seperti kecerdasan buatan/AI) tanpa mencabut akar tradisinya. (Rieska Wulandari – Milan, Italia).


Tinggalkan Balasan