JAKARTA RAYA—Perubahan wajah pelabuhan tidak hanya berbicara tentang alat dan teknologi. Di balik aktivitas bongkar muat, terdapat ribuan tenaga kerja yang menggantungkan penghidupan pada sektor kepelabuhanan.
Hal itu menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan antara Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Induk Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (INKOP TKBM) Pelabuhan mengenai masa depan koperasi TKBM.
Tantangan Teknologi Pelabuhan
Ketua INKOP TKBM Pelabuhan HM Nasir menegaskan bahwa koperasi memiliki peran penting dalam membuka lapangan pekerjaan sekaligus memberdayakan masyarakat di sekitar pelabuhan.
Bagi masyarakat di sejumlah daerah, aktivitas bongkar muat bukan sekadar pekerjaan, tetapi menjadi bagian dari roda ekonomi lokal.
Karakteristik pelabuhan yang berbeda-beda membuat kebijakan terhadap TKBM tidak bisa hanya melihat angka aktivitas atau struktur pasar.
Ada pelabuhan dengan kegiatan ekonomi besar, tetapi ada pula pelabuhan yang aktivitasnya terbatas dan menjadi tumpuan masyarakat setempat.
Karena itu, INKOP TKBM mendorong adanya kolaborasi antara koperasi, pemerintah, regulator, penyelenggara pelabuhan dan pengguna jasa.
Ketua KPPU menilai peningkatan kualitas pelayanan juga menjadi bagian penting dalam membangun persaingan usaha yang sehat.
Persaingan, menurutnya, tidak selalu harus berlangsung melalui harga.
“Kalau tarifnya sudah disepakati asosiasi, yang dipersaingkan adalah layanan,” demikian salah satu poin yang disampaikan Ketua KPPU.
Pembenahan tata kelola juga menjadi bagian dari agenda tersebut. Salah satu gagasan yang muncul adalah pemanfaatan sistem digital untuk membuat pelayanan TKBM lebih transparan.
Melalui sistem digital, pengguna jasa dapat mengetahui ketersediaan tenaga kerja sekaligus memiliki ruang untuk memilih layanan berdasarkan kualitas dan kinerja.
Konsep tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan transparansi, tetapi juga mendorong koperasi TKBM untuk terus memperbaiki kualitas pelayanan.
Perubahan teknologi menjadi tantangan berikutnya. Mekanisasi di pelabuhan membuat kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan baru semakin meningkat.
KPPU mendorong tenaga kerja TKBM untuk beradaptasi dengan perkembangan tersebut, termasuk melalui peningkatan kompetensi dan sertifikasi sebagai operator peralatan.
Bagi INKOP TKBM sambung Nasir, transformasi teknologi tetap perlu berjalan beriringan dengan keberlanjutan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan tenaga kerja.
Salah satu modal yang telah dimiliki adalah peningkatan kompetensi. INKOP TKBM menyampaikan bahwa hampir 90 persen tenaga kerja telah mendapatkan sertifikasi kompetensi.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa tenaga kerja bongkar muat tidak hanya dituntut mempertahankan pekerjaan yang ada, tetapi juga harus siap menghadapi perubahan cara kerja di pelabuhan.
Ke depan, tantangannya adalah bagaimana digitalisasi, mekanisasi dan tuntutan efisiensi dapat berjalan bersama dengan fungsi sosial koperasi.
Di titik itulah INKOP TKBM ingin menempatkan koperasi bukan sekadar sebagai penyedia tenaga kerja, tetapi sebagai wadah pemberdayaan masyarakat yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Pertemuan dengan KPPU menjadi bagian dari upaya mencari titik temu antara efisiensi pelayanan, persaingan usaha yang sehat, perkembangan teknologi, dan keberlanjutan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar pelabuhan. (ali)


Tinggalkan Balasan