JAKARTA RAYA — Semangat mencintai ibu kota diwujudkan melalui gerakan kreatif bernama Jakarta 22, sebuah inisiatif lintas komunitas yang digelar rutin setiap tanggal 22 setiap bulan. Gerakan ini menjadi ruang kolaborasi warga Jakarta dari berbagai latar belakang untuk membangun kepedulian terhadap sosial, budaya, kebersihan lingkungan, hingga memperkuat identitas Jakarta sebagai kota internasional yang penuh keberagaman.

Ketua Jakarta 22, Wiryoadi Soewarto atau yang akrab disapa Titud, menjelaskan bahwa Jakarta 22 digagas sebagai gerakan kolektif berbasis kreativitas digital. Tidak hanya menghadirkan dokumentasi kegiatan dalam bentuk video, gerakan ini juga mendorong komunitas untuk aktif membuat konten bertema Jakarta yang dipublikasikan melalui media sosial, khususnya Instagram.

“Gerakan ini diharapkan mampu menghidupkan semangat kolaborasi warga sekaligus memperkuat citra Jakarta di mata dunia,” ujar Titud.

Pembina Jakarta 22, Muhammad Anwar, bersama para penggerak komunitas menyebut ide tersebut lahir dari rasa cinta terhadap Jakarta, terutama menjelang perjalanan menuju usia 500 tahun Kota Jakarta.

“Sebagai warga yang mencintai Jakarta, kami ingin mengumpulkan komunitas lintas usia dan lintas latar belakang untuk bersama-sama memikirkan masa depan kota ini. Jakarta bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik seluruh warga yang hidup dan tumbuh di dalamnya,” ungkapnya.

Gerakan Jakarta 22 juga hadir sebagai wadah kreatif yang mengajak masyarakat lebih peduli terhadap berbagai isu perkotaan, salah satunya kebersihan lingkungan. Menurut Muhammad Anwar, budaya menjaga kebersihan harus dimulai dari lingkungan terkecil, mulai dari kamar, rumah, halaman, hingga lingkungan sekitar.

“Nilai sederhana itu diyakini mampu membentuk budaya disiplin dan cinta kota secara berkelanjutan,” katanya.

Berbeda dengan komunitas lainnya, Jakarta 22 mengusung konsep sosial yang produktif dan berbasis kolaborasi digital. Seluruh komunitas yang terlibat saling mendukung dengan memberikan apresiasi melalui like, komentar, hingga membagikan konten antarjaringan komunitas.

Agar tetap relevan dengan momentum sosial masyarakat, Jakarta 22 juga mengangkat tema berbeda setiap bulan. Pada Juli misalnya, tema yang diusung adalah “Jakarta Sayang Anak” bertepatan dengan Hari Anak Nasional. Sementara Agustus mengangkat semangat kemerdekaan, September fokus pada komunikasi komunitas, Oktober tentang pemuda, November mengenai guru, dan Desember mengangkat peran ibu.

Menurut Titud, konsep tersebut menjadi kekuatan utama Jakarta 22 karena setiap komunitas diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan kreatifnya secara bergiliran.

“Semua inspirasi lahir dari komunitas. Setiap orang punya ide, kepedulian, dan semangat membangun Jakarta dengan cara kreatif,” ujarnya.

Jakarta 22 juga membuka ruang luas bagi generasi muda untuk bergabung. Anak muda diajak tidak hanya fokus pada pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kota tempat mereka lahir dan tumbuh.

Gerakan ini diyakini mampu menjadi identitas baru Jakarta di era digital. Dengan dukungan komunitas, seniman, kreator konten, hingga tokoh masyarakat, Jakarta 22 perlahan membangun cita-cita menjadikan Jakarta sebagai “The Ethnic City of The World”.

Sejumlah komunitas, publik figur, hingga pelaku kreatif disebut telah bergabung dalam gerakan tersebut. Mereka tidak hanya membawa program hiburan, tetapi juga gagasan sosial dan budaya yang memperkuat wajah Jakarta sebagai kota global yang tetap menjaga nilai kebhinekaan.

Di tengah derasnya perkembangan media sosial, Jakarta 22 hadir bukan sekadar komunitas konten, melainkan gerakan kolektif yang menyatukan semangat warga untuk menjaga, merawat, dan membesarkan Jakarta bersama-sama.

“Jakarta 22 bukan hanya tentang berkumpul dan membuat konten, tetapi tentang menyalakan harapan bahwa masa depan Jakarta akan lahir dari tangan-tangan warga yang peduli, kreatif, dan bergerak bersama untuk kotanya,” tegas Titud.

Adapun susunan pengurus Jakarta 22 terdiri atas Ketua Wiryoadi Soewarto (Titud), Wakil Ketua Capt. Ali Nahdi, Direktur Program Fadhil Indra, Sekretaris Ita Mayasari dan Harwanto, Bendahara Musa Leon M. Tambunan dan Ida Lea, serta Pembina Muhammad Anwar. (Hab)