JAKARTA RAYA, Bern – Sejarah, budaya, dan potensi kerja sama Indonesia–Swiss kembali mengemuka dalam Wisuda Peserta Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) KBRI Bern Semester II Tahun 2025. Presentasi tiga siswa BIPA 6—Jasper, Tiffany, dan Monique—berjudul Swiss–Indonesia: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan menjadi salah satu sorotan utama. Mereka menggambarkan bagaimana dua negara dengan perbedaan geografis, budaya, dan sejarah justru mampu membangun hubungan yang semakin erat melalui kerja sama, saling percaya, serta kedekatan antarmasyarakat.

“Meskipun Swiss dan Indonesia sangat berbeda, perbedaan itu bukan hambatan. Dengan kerja sama dan saling percaya, kedua negara dapat tumbuh bersama,” ujar Jasper dalam presentasinya.

Acara wisuda yang digelar di Wittigkofen, Bern, pada Sabtu (6/12) itu diikuti oleh 30 pemelajar dari berbagai usia, terbagi dalam kelas BIPA Anak hingga BIPA 6. Para peserta sebagian besar merupakan warga Swiss dan Liechtenstein dengan latar belakang profesi beragam, mulai dari pengacara, ilmuwan, pebisnis, diplomat, hingga sejarawan. Mereka telah mengikuti kelas Bahasa Indonesia sejak 1 September hingga 5 Desember 2025 di KBRI Bern. Selain menerima sertifikat, para pemelajar juga menunjukkan kemahiran bahasa Indonesia melalui pantun, nyanyian, drama, hingga presentasi mengenai hubungan Indonesia–Swiss.

Penampilan para siswa pada prosesi wisuda berlangsung meriah dan sarat nuansa budaya. Dari kelas BIPA Anak, Liam, Tara, Naomi, dan Marcel mempresentasikan karya layang-layang sambil menyanyikan lagu “Naik Kereta Api” dan “Halo-Halo Bandung.” Naomi bahkan memperlihatkan layang-layang bergambar Pancasila sebagai simbol kebanggaannya terhadap Indonesia.

Dari BIPA 1A, para siswa menampilkan lagu dolanan “Cublak-Cublak Suweng” sambil berjoget. Sementara itu, Bianca, Rolf, dan Matthias dari BIPA 1B membawakan pantun jenaka. Michel dari BIPA 3, seorang pengacara dari Jenewa yang telah belajar Bahasa Indonesia selama satu setengah tahun, tampil membawakan lagu “Keluarga Cemara” sebagai ungkapan kedekatannya dengan komunitas Indonesia di Bern. Adapun siswa BIPA 4—Andrea, Enrico, Sarah, Naomi, dan Simon—menyuguhkan drama rakyat “Ande-Ande Lumut” yang mengundang tawa dan apresiasi.

Kedekatan emosional pemelajar BIPA dengan Indonesia tampak dari berbagai testimoni. Simon, siswa BIPA 4, menyebut bahwa inti hubungan Indonesia–Swiss bukan sekadar perjanjian atau statistik ekonomi. “Yang paling penting adalah hubungan nyata seperti di acara wisuda BIPA ini: orang-orang belajar bahasa dan budaya Indonesia, menjalin persahabatan, dan kadang bahkan saling jatuh cinta,” ujarnya.

Para peserta BIPA juga berasal dari lingkungan akademik dan profesional yang kuat. Monique Ligtenberg, misalnya, pernah meneliti keterlibatan orang Swiss dalam Tentara Hindia Belanda. Hadir pula Philipp Krauer, sejarawan ETH Zürich dan penulis Swiss Mercenaries in the Dutch East Indies, yang kini tengah belajar Bahasa Indonesia di BIPA 1. Kehadiran para akademisi ini menegaskan bahwa BIPA bukan hanya ruang belajar bahasa, tetapi juga forum dialog sejarah dan budaya.

Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Ngurah Swajaya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemelajar yang berhasil menyelesaikan program BIPA di tengah kesibukan pekerjaan, studi, dan kehidupan keluarga di Swiss. “Keberhasilan Anda menyelesaikan kelas Bahasa Indonesia menunjukkan dedikasi, ketekunan, dan ketertarikan yang tulus terhadap Indonesia,” ujarnya. Menjelang peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Swiss pada 2026, ia berharap program BIPA dapat menjadi tonggak penting dalam memperkukuh persahabatan antarmasyarakat kedua negara.

Usai prosesi wisuda, para peserta menikmati hidangan khas Indonesia seperti rendang, sate ayam, salada padang, tempe orek, sosis solo, martabak manis, hingga dadar gulung. Acara ditutup dengan persembahan lagu-lagu Indonesia oleh para pemelajar, menambah kehangatan suasana.

Program BIPA menjadi salah satu agenda unggulan diplomasi budaya KBRI Bern sejak 2020. Hingga kini, sekitar 200 pemelajar telah mengikuti kelas BIPA, mulai dari tingkat dasar hingga BIPA 7 untuk dewasa serta kelas khusus anak-anak. Program yang diselenggarakan bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI ini menjadi wujud nyata upaya memperkuat hubungan persahabatan Indonesia–Swiss melalui pengajaran bahasa dan budaya.

Di tengah dunia yang semakin terhubung, program BIPA tidak hanya melahirkan penutur Bahasa Indonesia baru, tetapi juga sahabat-sahabat Indonesia yang turut mempromosikan citra positif Indonesia di Swiss dan Liechtenstein. (rw)