JAKARTA RAYA – Pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 mendapat penilaian positif dari sebagian besar jamaah Indonesia.
Dibandingkan penyelenggaraan haji tahun 2025, berbagai aspek layanan dinilai mengalami perbaikan, terutama pada distribusi konsumsi, koordinasi petugas, serta kelancaran pelayanan selama puncak ibadah haji.
Meski demikian, sejumlah catatan penting masih perlu menjadi perhatian penyelenggara, khususnya terkait fasilitas di kawasan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang menjadi lokasi utama pelaksanaan rangkaian puncak ibadah haji.
Salah satu keluhan yang banyak disampaikan jamaah adalah kondisi tenda di Arafah dan Mina yang masih terlalu padat.
Dalam satu tenda, diperkirakan menampung sekitar 300 jamaah dengan ruang tidur berupa matras berukuran sekitar 50 x 200 sentimeter per orang.
Kondisi tersebut dinilai kurang ideal, terutama saat jamaah harus beristirahat setelah menjalani aktivitas ibadah yang cukup berat.
“Kepadatan tenda membuat ruang gerak sangat terbatas. Bagi jamaah lansia dan penyandang disabilitas, kondisi ini tentu cukup menyulitkan dan mengurangi kenyamanan selama menjalankan ibadah,” ujar Bambang Sambodo, salah seorang jamaah haji Indonesia.
Selain persoalan kapasitas tenda, Bambang juga menyoroti jumlah toilet yang tersedia yang dinilai masih jauh dari kebutuhan jamaah.
Antrean panjang kerap terjadi, terutama pada waktu-waktu tertentu, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi jamaah lanjut usia maupun mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Para jamaah berharap pada musim haji mendatang dapat dilakukan penambahan kapasitas tenda, perluasan area istirahat, serta peningkatan jumlah fasilitas sanitasi agar kenyamanan dan kesehatan jamaah lebih terjamin.
Di sisi lain, layanan konsumsi selama musim haji 2026 mendapatkan apresiasi dari jamaah. Makanan siap saji disediakan tiga kali sehari dengan menu khas Indonesia, dilengkapi buah-buahan dan air mineral.
Secara umum, kebutuhan nutrisi jamaah dinilai telah terpenuhi dengan baik. Meskipun demikian, sebagian jamaah mengaku belum sepenuhnya cocok dengan cita rasa makanan yang disajikan.
Namun, hal tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan selera masing-masing individu dan tidak mengurangi kualitas pelayanan secara keseluruhan.
“Secara umum, penyelenggaraan haji tahun 2026 ini telah menunjukkan kemajuan dibandingkan tahun sebelumnya,” nilai Bambang.
Dengan sejumlah perbaikan yang telah dilakukan dan evaluasi terhadap fasilitas di Armuzna, diharapkan kualitas pelayanan haji Indonesia pada tahun-tahun mendatang dapat semakin meningkat.
“Khususnya dalam memberikan kenyamanan bagi jamaah lansia dan penyandang disabilitas,” pungkasnya. (*)


Tinggalkan Balasan