Oleh: Wawat Kurniawan (Pemerhati Masalah Sosial)
JAKARTA RAYA – Melihat demo emak-emak mendukung MBG, kita menyaksikan betapa keuntungan para Pengusaha Dapur MBG itu demikian besar.
Kalau tidak menguntungkan mereka, sekarang pertanyaannya uang darimana mereka untuk menggalang demo. Apalagi dengan seragam. Paling tidak 3 – 5 Miliar mereka bakar untuk 1 hari di jalanan.
Padahal dalam bisnis, hukum yang utama adalah Jangan Serakah dan Patuhi Aturan yang dibuat oleh Pemberi Proyek dan Pemerintahnya.
Jadi sebenarnya mereka sedang membahayakan usahanya sendiri dan membenarkan apa yang pernah di Ucapkan Presiden prabowo, yaitu Demo digerakan Cukong-Cukong dan Mafia dalam hal ini Mafia Dapur MBG.
Dan pemerintah tidak boleh kalah oleh tekanan para Pemodal/Cukong Dapur dalam upaya mobilisasi terorganisir untuk melindungi kepentingan ekonomi pihak tertentu yang selama ini diuntungkan oleh operasional program tersebut.
Siapa sangka, sebuah Wajan kini punya kekuatan politik yang lebih tajam daripada orasi di gedung parlemen.
Pemandangan epik: lautan emak-emak yang turun ke jalan bukan untuk menuntut “HARGA SEMBAKO TURUN”, melainkan untuk membela “Hajat Hidup” Pengusaha Dapur Jatah Makanan Untuk Anak-Anak.
Dengan seragam yang rapi dan barisan yang teratur, aksi ini menjadi bukti nyata betapa “spontanitas” rakyat kini punya standar harga: Rp 100 ribu plus bonus sebuah wajan.
Sungguh sebuah investasi yang luar biasa dari para “Dermawan” di balik layar. Jika memang ini aksi akar rumput, rasanya baru kali ini akar rumput memiliki modal miliaran untuk sekadar “Bakar Uang” di jalanan.
Namun, di balik hiruk-pikuk dukungan tersebut, ada drama yang lebih kelam. Ternyata, menjadi relawan di dapur jauh lebih menakutkan. Karena ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Bagi yang enggan turun ke jalan, bersiaplah untuk “dipecat” dari dapur karena dianggap mengundurkan diri.
Sebuah ancaman yang sangat demokratis: ikuti demo, atau kehilangan periuk nasi. Rupanya, untuk menjaga keberlangsungan tempat kerja, “pemaksaan” adalah Menu utama Gizi hari ini.
Di atas panggung orasi, para tokoh berdiri gagah, memimpin Pasukan Wajan ini dengan penuh wibawa, seolah sedang memenangkan sebuah perang besar.
Padahal, publik paham betul bahwa yang sedang mereka bela bukanlah gizi anak bangsa, melainkan “ekosistem” yang terancam oleh aturan pemerintah.
Presiden Prabowo pun mungkin hanya bisa tersenyum kecut. Apa yang pernah beliau sebut sebagai gerakan “Cukong” dan “Mafia” kini sedang mengadakan pesta pora di jalanan, lengkap dengan sound system yang menggelegar dan barisan relawan yang diwajibkan hadir.
Jadi, mari kita beri tepuk tangan untuk “Mafia Dapur”. Mereka telah menunjukkan kepada kita bahwa di negeri ini, keadilan bisa dibeli dengan wajan, dan loyalitas bisa dipaksakan melalui pesan singkat WhatsApp.
Rakyat hanyalah pelengkap penderita, sementara para Cukong tetap tertawa di balik kepulan asap Dapur MBG mereka yang penuh dengan agenda. (*)


Tinggalkan Balasan