JAKARTA RAYA – Meski tak lagi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, nama Joko Widodo (Jokowi) masih memiliki daya tarik kuat di berbagai daerah.
Di Indonesia Tengah dan Timur, kehadiran Presiden ke-7 RI itu bahkan disebut masih sangat dinantikan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ketua Harian DPW PSI Sulawesi Tenggara, Abu Hasan.
Menurut mantan Bupati Buton Utara itu, antusiasme masyarakat terhadap Jokowi tidak pernah benar-benar surut karena jejak pembangunan yang ditinggalkannya masih dirasakan hingga hari ini.
“Pak Jokowi bukan hanya dikenang sebagai mantan presiden. Bagi banyak masyarakat di Indonesia Tengah dan Timur, beliau adalah sosok yang membawa harapan dan menghadirkan pembangunan yang nyata,” kata Abu Hasan.
Menurut Abu Hasan, safari kebangsaan Jokowi dengan mengunjungi berbagai daerah merupakan kabar yang menggembirakan.
Selain menjadi ajang silaturahmi dengan masyarakat, kunjungan tersebut juga menghidupkan kembali optimisme masyarakat terhadap pembangunan daerah.
Abu Hasan mengaku memahami mengapa kehadiran Jokowi masih mendapat sambutan hangat.
Saat menjabat sebagai Bupati Buton Utara periode 2016-2021, ia berkesempatan berinteraksi dan berkoordinasi langsung dengan pemerintah pusat dalam berbagai agenda pembangunan.
“Dari posisi saya sebagai kepala daerah saat itu, saya melihat langsung bagaimana komitmen Pak Jokowi agar pembangunan tidak hanya berpusat di Pulau Jawa, tetapi juga menjangkau wilayah Indonesia Tengah dan Timur,” ujarnya.
Ia menilai banyak kepala daerah yang pernah menjabat pada era Jokowi merasakan perhatian dan dukungan pemerintah pusat dalam mendorong pembangunan infrastruktur, konektivitas, dan pelayanan publik.
Menurutnya, itulah yang membuat hubungan emosional antara masyarakat dan Jokowi masih terjaga hingga saat ini.
“Dulu banyak daerah di luar Jawa merasa jauh dari pusat perhatian. Pada era Pak Jokowi, pembangunan mulai dirasakan lebih merata. Karena itu, setiap kedatangan beliau selalu memiliki makna tersendiri bagi masyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Abu Hasan juga menyinggung perjalanan politiknya.
Ia mengatakan perpindahannya dari PDI Perjuangan ke PSI tidak mengubah nilai-nilai yang selama ini dipegangnya.
“Saya ber-PSI, sebelumnya ber-PDI Perjuangan. Bagi saya tidak ada masalah berkiprah di mana saja, selama semangat keislaman dan keindonesiaan tetap dipegang teguh. Itu adalah petuah Pendiri HMI, Prof. Lafran Pane, yang selalu saya jadikan pegangan,” ujar Abu Hasan.
Mantan Ketua Umum HMI Cabang Kendari dan Koordinator Presidium KAHMI Sulawesi Tenggara itu menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat harus berada di atas kepentingan politik praktis.
Menurutnya, yang terpenting bukan kendaraan politik yang digunakan, melainkan konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, menjaga persatuan bangsa, dan melanjutkan pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Abu Hasan menilai sambutan hangat terhadap Jokowi di berbagai daerah bukan semata karena statusnya sebagai mantan kepala negara. Lebih dari itu, ada ikatan emosional yang terbentuk selama dua periode kepemimpinannya.
“Rakyat merasa pernah didengar, diperhatikan, dan merasakan hasil pembangunan secara langsung. Itulah sebabnya setiap kunjungan Pak Jokowi selalu ditunggu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, safari kebangsaan Jokowi bukan hanya membawa dampak positif bagi PSI, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan menjaga kedekatan antara tokoh bangsa dengan masyarakat.
“Ketika Pak Jokowi datang, yang hadir bukan sekadar mantan presiden. Bagi banyak masyarakat, yang datang adalah sosok yang pernah membawa perubahan dan meninggalkan jejak pembangunan yang masih mereka rasakan hingga hari ini,” tutup Abu Hasan. (ali)


Tinggalkan Balasan