JAKARTA RAYA – Memiliki budget campaign hanya Rp10 juta bukan berarti pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tidak bisa meningkatkan penjualan di e-commerce. Dengan strategi pemasaran yang tepat, anggaran terbatas tetap dapat dimanfaatkan untuk menjangkau konsumen dan mendorong konversi penjualan.

Chief Commercial Officer SCGI Agency, Edgar Alexander, membagikan sejumlah strategi yang dapat diterapkan pelaku UKM dalam mengoptimalkan budget campaign Rp10 juta.

Menurut Edgar, pengelolaan anggaran harus disesuaikan dengan kebutuhan campaign. Pelaku usaha tidak perlu mengalokasikan seluruh dana untuk iklan digital, tetapi dapat membaginya ke sejumlah aktivitas pemasaran agar jangkauan promosi lebih optimal.

Berikut strategi UKN yang dapat diterapkan:

1. Alokasikan Rp2 Juta untuk Produksi Konten

Langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah produksi konten kreatif. Dari total budget campaign Rp10 juta, pelaku UKM dapat mengalokasikan maksimal Rp2 juta untuk kebutuhan pembuatan konten.

Edgar mengatakan, konten promosi tidak harus dibuat dengan konsep yang mahal atau produksi sinematik. Pelaku UKM dapat memanfaatkan perangkat yang sudah dimiliki, seperti ponsel dan laptop yang mendukung penyuntingan video maupun gambar.

“Tidak harus sinematik. Gunakan alat yang ada seperti ponsel dan laptop yang support video/image editing,” kata Edgar.

Untuk menekan biaya produksi, pelaku UKM juga dapat melibatkan rekan atau orang-orang di lingkungan sekitar sebagai talent. Kompensasi dapat diberikan dalam bentuk uang transportasi yang layak sekaligus kesempatan untuk menambah portofolio.

Dengan cara tersebut, pelaku usaha dapat memproduksi materi promosi tanpa harus menghabiskan sebagian besar anggaran campaign.

2. Gunakan Rp4 Juta untuk Iklan Digital

Sebanyak 40 persen atau sekitar Rp4 juta dari budget campaign dapat dialokasikan untuk optimalisasi iklan digital.

Edgar menyarankan pelaku UKM memulai dengan iklan berskala mikro. Target promosi dapat difokuskan pada konsumen di wilayah tertentu, seperti kelurahan atau kecamatan, dibandingkan langsung menyasar pasar dalam cakupan satu kota atau provinsi.

Strategi tersebut memungkinkan pelaku usaha membuat pesan promosi yang lebih relevan dengan karakteristik konsumen di wilayah sasaran.

Selain mengandalkan iklan berbayar, pelaku UKM juga dapat memanfaatkan konten organik. Salah satunya dengan membuat video untuk TikTok atau Instagram/Facebook Reels tanpa biaya iklan terlebih dahulu.

Konten yang mendapatkan respons organik paling baik kemudian dapat didorong menggunakan iklan atau fitur boost.

Strategi UKM
Edgar Alexander, Chief Commercial Officer SCGI Agency berbagai tips dan trik cara mengoptimalisasi budget campaign mepet. (Foto: Ist)

“Misalnya dengan cara membuat video TikTok atau Instagram/Facebook Reels gratis. Lalu, pasang iklan (boost) pada video yang mendapat respons organik terbaik,” ujar Edgar.

Pelaku UKM juga dapat memanfaatkan grup WhatsApp atau layanan broadcast gratis lainnya untuk mendistribusikan konten promosi kepada calon konsumen.

3. Sisihkan Rp2 Juta untuk Promosi Offline

Strategi pemasaran digital dapat diperkuat dengan promosi secara offline. Pelaku UKM dapat mengalokasikan sekitar Rp2 juta untuk membuat alat peraga sederhana, seperti banner berukuran kecil atau stiker.

Materi promosi tersebut dapat ditempatkan di sejumlah titik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, seperti warung kopi, pos ronda, pasar, hingga lokasi yang ramai dilalui warga.

Promosi offline dapat menjadi pelengkap pemasaran digital, terutama bagi UKM yang menyasar konsumen berdasarkan wilayah tertentu.

4. Manfaatkan Rp2 Juta untuk Membangun Komunitas

Sisa anggaran sekitar Rp2 juta dapat digunakan untuk membangun interaksi langsung dengan konsumen melalui komunitas.

Pelaku UKM dapat melakukan pertemuan dengan anggota komunitas, organisasi, maupun karang taruna. Kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun hubungan dengan calon konsumen.

Kerja sama juga dapat dilakukan dengan ketua RT, RW, tokoh pemuda, atau tokoh masyarakat setempat untuk membantu menyampaikan informasi mengenai produk dan kampanye yang dijalankan.

Anggaran tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan pendukung kegiatan, seperti pemberian giveaway, penggantian biaya transportasi, maupun penyediaan konsumsi selama pertemuan.

Strategi Lebih Penting daripada Besarnya Anggaran

Pembagian budget campaign Rp10 juta tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan pemasaran UKM.

Dengan pembagian anggaran yang terukur, pelaku usaha dapat mengombinasikan produksi konten, iklan digital, promosi offline, dan pendekatan komunitas.

Kunci utamanya adalah menentukan target konsumen dengan tepat, menguji konten yang memiliki respons terbaik, kemudian mengalokasikan anggaran lebih besar pada strategi yang memberikan hasil paling optimal.

Dengan demikian, budget campaign Rp10 juta tetap dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan jangkauan dan peluang penjualan di e-commerce tanpa harus mengeluarkan biaya promosi dalam jumlah besar sejak awal. (Hab)