JAKARTA RAYA — Gerakan Bela Negara Indonesia (GBNI) memasuki babak baru. Tiga agenda, yakni Pelantikan DPP GBNI, FGD Bela Negara, dan Mukernas DPP GBNI, digelar di Kampus Bela Negara UPN Veteran Jakarta (UPNVJ), Sabtu (15/8/2026).

Mengusung tema “Dilantik, Berdiskusi, Bekerja”, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi sekaligus penguatan peran GBNI dalam membumikan nilai-nilai bela negara.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum DPP GBNI Abu Hasan menyerahkan plakat GBNI kepada Kepala Pusat Bela Negara Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Parluhutan Marpaung.

Saat mengenakan topi Bela Negara, Abu Hasan mendapat komentar ringan, “Topi Bela Negara keren lho, Pak Ketum.”

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina DPP GBNI sekaligus Rektor UPNVJ, Prof. Dr. Anter Venus, mengatakan kepemimpinan Abu Hasan berlangsung di tengah masa transisi organisasi.

“Kepemimpinan Pak Abu tidak mudah karena kita ada dalam situasi transisi. Ada tahap deforming, menata organisasi lama menjadi organisasi baru, dan storming yang penuh dinamika pro dan kontra. Tapi semua bisa dilalui,” ujar Anter.

Menurutnya, GBNI kini memasuki tahap norming dan functioning.

“Insya Allah GBNI dapat beroperasi dengan baik. Pak Abu mampu memimpin dengan sejuk, terarah dan mengintegrasikan seluruh elemen GBNI yang latar belakangnya sangat bervariasi,” katanya.

Langsung Bekerja

Abu Hasan menegaskan kepengurusan baru tidak mengenal istilah purna bakti.

“Tidak ada istilah purna bakti. Setelah dilantik, kita langsung bekerja,” tegasnya.

GBNI akan memprioritaskan konsolidasi, kolaborasi, dan desentralisasi program agar agenda bela negara semakin dekat dengan masyarakat.

Sementara itu, Brigjen TNI Parluhutan Marpaung mengingatkan bahwa bela negara harus menyesuaikan perkembangan zaman, termasuk menghadapi ancaman siber dan disinformasi.

Sekjen JARI Andrianto turut mendorong GBNI turun langsung ke akar rumput.

“GBNI adalah ujung tombak yang riil di lapangan,” ujarnya.

Ia meyakini GBNI dapat membantu mengedukasi masyarakat sekaligus menangkal hoaks yang berpotensi memecah belah bangsa.

Rangkaian pelantikan, FGD, dan Mukernas menjadi momentum bagi GBNI untuk bergerak dari konsolidasi menuju kerja nyata dalam memperkuat kesadaran bela negara. (Ali)