JAKARTA RAYA – Salah satu kelebihan Jusuf Kalla atau JK yang belum tertandingi adalah tokoh juru damai. JK terbukti piawai mendamaikan Aceh dan Ambon. Aceh urusan NKRI dan Ambon urusan SARA.
Berhentikah JK dalam hatinya sebagai juru damai? Kami yakin tidak. Karena karakter negarawan adalah selalu mencari kedamaian. Bukan membuat air keruh. Tidak memercikkan api dan membakar demi kepentingan dirinya.
Mungkin ungkapan dalam hatinya: ini terlalu!. Ungkapan sederhana. Hanya urusan secarik kertas – ijazah – membakar emosi dari desa sampai kota. Selama dua tahun.
Mau jadi apa anak bangsa ini yang dibangun dengan fitnah, kelicikan dan amarah yang dipertontonkan.
“Hai, anak muda Indonesia. Saya tidak pernah minta jadi Wapres. Saya mau setelah didorong oleh Bu Mega. Saya bersedia bukan karena Jokowi, tapi demi Negara!” begitu kira-kira teriak Pak JK.
Kini, saatnya Pak JK sampaikan sebuah kebenaran dan memberi nasehat pada Jokowi. Itu super wajar. Untuk mendamaikan anak bangsa yang saling fitnah. Saling membenci. Dan bisa terbelah. Ingatkah istilah Cebong dan Kampret?
Langkah Pak JK adalah langkah yang indah. Saat kita sudah kering dengan ketokohan yang mampu mendamaikan keruwetan.
Tekanan ekonomi yang luar biasa saat ini, seakan terlupakan hanya oleh keangkuhan Jokowi yang tidak mau menerima nasehat dari Pak JK. Nasihat tanpa pamrih. Nasihat dari kawan politik yang mendampingi selama 5 tahun.
Sekalipun nasihatnya tak digubris, Pak JK tetaplah seorang negarawan. Kecewa, mungkin ada di hatinya. Tapi nasihat dari seorang mantan wakil presiden, bukan berdasar karena rasa kebencian.
Mari kita simak pernyataan Pak JK saat jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026) kemarin.
JK mengatakan dialah yang menyodorkan nama Jokowi ke Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri di pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta.
Bahkan, dia juga mengatakan Jokowi menjadi Presiden ke-7 RI karena dirinya. “Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya,” tegas JK.
“Nah dua tahun dia Gubernur, oke silakan, saya tidak campur, saya tidak pernah datang waktu Gubernur. Tiba-tiba jadi calon Presiden, saya bilanglah: ‘Eh belum cukup pengalaman, jangan, nanti rusak negeri ini’ Ah tapi Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken kalau saya tidak wakilnya,” katanya.
“Kenapa Bu saya mesti wakilnya?’. Karena Pak JK yang paling berpengalaman. Bimbinglah dia (Jokowi).”
“Aduh, saya mau pulang kampung waktu itu. Mau pulang ke Makassar. Ibu Mega bilang: jangan. Pak Yusuf harus dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf’.”
“Ya bukan saya minta, bukan. Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi, karena beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba-coba. Minta maaf ya. Kasih tahu semua itu buzzer buzzer itu: dia (Jokowi) tidak jadi Gubernur kalau bukan saya, ngerti?!.”
Terkait polemik ijazah Jokowi, Pak JK pun meminta Jokowi membuka ijazahnya. Dia tidak ingin masalah ini berlarut-larut.
“Sudahlah Pak Jokowi, sudahlah. Kasih lihat ijazah saja. Itu saja. Timbul lagi, sensitif sekali itu ijazah. Kenapa sih? Dan saya yakin itu asli, kenapa tidak dikasih lihat? Membiarkan masyarakat berkelahi sendiri, saling memaki masyarakat dua tahun.”
Apa ada yang salah dengan pernyataan Pak JK itu? Sebuah kejujuran dan ketulusan untuk meluruskan. Tanpa pamrih. Tanpa kepentingan. Lalu kenapa dipersoalkan?
Ungkapan negarawan Pak JK ini luar biasa: “Bu Megawati itu demokratis sekali. Ibu yang mencalonkan, namun dikhianati!”
Sekarang saatnya kita bertanya pada diri sendiri: Masihkah kita percaya dangan Jokowi saat ini? (DM)


Tinggalkan Balasan