JAKARTA RAYA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia memperkenalkan Ocean Calculator, sebuah platform geospasial berbasis Neraca Sumber Daya Laut (NSDL) yang dirancang untuk menghitung nilai ekonomi ekosistem laut dan pesisir secara cepat, akurat, serta berbasis data ilmiah.

JAKARTA RAYA – Platform ini menjadi instrumen baru dalam mendukung pengelolaan sumber daya kelautan yang lebih terukur melalui pemanfaatan data geospasial, citra satelit, dan hasil riset ilmiah. Ocean Calculator mampu menghitung nilai ekonomi berbagai ekosistem penting seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, sekaligus menampilkan manfaat ekologis dan ekonominya bagi masyarakat.

Informasi yang dihasilkan mencakup kondisi ekosistem pesisir, kemampuan penyimpanan karbon biru (blue carbon), perlindungan garis pantai, hingga kontribusi terhadap mata pencaharian masyarakat pesisir. Data tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan, perencanaan pembangunan, serta pengelolaan kawasan pesisir yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengatakan Ocean Calculator merupakan bagian dari pengembangan ocean accounting, yaitu sistem yang mengintegrasikan informasi lingkungan dan ekonomi untuk mendukung pembangunan sektor kelautan secara berkelanjutan.

“Ocean Calculator dikembangkan sebagai bagian dari upaya membangun ocean accounting, yakni sistem yang mengintegrasikan informasi lingkungan dan ekonomi untuk mendukung perencanaan pembangunan kelautan yang berkelanjutan. Kami berharap platform ini terus berkembang dan menjadi bagian dari penguatan kebijakan kelautan yang berbasis bukti ilmiah,” ujar Koswara dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Purwarupa Ocean Calculator diperkenalkan dalam kegiatan Pengenalan dan Lokakarya Teknis Ocean Calculator yang digelar di Jakarta pekan lalu, bertepatan dengan momentum Hari Laut Sedunia. Platform ini mulai dikembangkan sejak 2024 oleh WRI Indonesia bersama sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan Australia, dengan dukungan Pemerintah Australia melalui program KONEKSI.

Salah satu keunggulan Ocean Calculator adalah penerapan pendekatan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Fitur tersebut memungkinkan pengguna memahami keterkaitan antara kondisi ekosistem laut dengan kelompok masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada sumber daya pesisir.

Melalui pendekatan tersebut, kebijakan pembangunan pesisir diharapkan tidak hanya memperhatikan aspek lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan manfaat ekonomi yang lebih merata dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Perwakilan Australia Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Jacqui Lord, menilai kehadiran platform ini menjadi instrumen penting untuk menghadapi meningkatnya tekanan terhadap kawasan pesisir akibat perubahan iklim maupun aktivitas manusia.

“Dengan semakin besarnya tekanan terhadap wilayah pesisir akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia, diperlukan instrumen yang mampu menilai manfaat ekosistem secara lebih komprehensif. Kami berharap Ocean Calculator dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung pengelolaan laut dan pesisir yang berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.

Direktur Konservasi Ekosistem KKP, Firdaus Agung, menjelaskan Ocean Calculator telah menjalani uji coba awal pada Februari 2026 dan kini telah terintegrasi dengan Sistem Informasi Data Konservasi (SIDAKO) milik KKP.

Melalui integrasi tersebut, masyarakat, akademisi, pemerintah, maupun pelaku usaha dapat mengakses berbagai informasi konservasi ekosistem pesisir melalui laman sidako.kkp.go.id.

“Ocean Calculator juga membantu berbagai pemangku kepentingan memahami nilai strategis ekosistem laut serta kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir,” kata Firdaus.

Sementara itu, Country Director WRI Indonesia, Nirarta Samadhi, mengatakan Ocean Calculator diharapkan menjadi referensi penting bagi pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat dalam merancang investasi dan pembangunan wilayah pesisir yang berbasis data.

Menurutnya, informasi yang lebih komprehensif mengenai nilai ekonomi ekosistem laut akan membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat sekaligus memperkuat praktik pembangunan berkelanjutan.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa pengelolaan laut Indonesia harus mengedepankan pendekatan berbasis data dan ilmu pengetahuan agar pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.

Kehadiran Ocean Calculator menjadi salah satu langkah strategis KKP dalam memperkuat tata kelola kelautan yang modern, transparan, dan berbasis bukti ilmiah untuk mendukung implementasi ekonomi biru (blue economy) di Indonesia. (hab)