JAKARTA RAYA — Dua talenta muda Indonesia, Salsabilla Nur Feranti dan Veldesen Yaputra, terpilih mewakili Indonesia dalam program global “Capture the Future: Global Youth Storytelling Initiative for People and Nature” yang diselenggarakan UNESCO melalui Man and the Biosphere (MAB) Programme bekerja sama dengan vivo.
Program tersebut mengajak generasi muda berusia 18–35 tahun memanfaatkan fotografi dan video untuk mengangkat cerita mengenai hubungan manusia dengan alam di kawasan cagar biosfer. Dalam proses seleksi, UNESCO menilai kekuatan storytelling, kreativitas, kualitas teknis, serta autentisitas karya.
Karya para peserta juga diharapkan mampu mengangkat berbagai isu penting, seperti konservasi keanekaragaman hayati, adaptasi terhadap perubahan iklim, pengetahuan tradisional, mata pencaharian berkelanjutan, hingga kehidupan masyarakat lokal.
Pendaftaran program Capture the Future berlangsung pada 5 Maret hingga 31 Mei 2026. Selanjutnya, proses pemilihan perwakilan pemuda dari berbagai negara dilakukan oleh dewan juri yang terdiri atas para pakar Man and the Biosphere Programme di Kantor Pusat UNESCO pada 29 Juli 2026.
Duta Besar/Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, Mohamad Oemar, menyambut terpilihnya Salsabilla dan Veldesen sebagai representasi generasi muda Indonesia dalam program tersebut.
“Indonesia memiliki salah satu kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya terbesar di dunia. Keberhasilan Salsabilla dan Veldesen menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia bukan hanya mampu menjadi penjaga kekayaan tersebut, tetapi juga mampu menerjemahkannya melalui kreativitas, ilmu pengetahuan, dan storytelling sehingga dapat berbicara kepada masyarakat dunia,” ujar Mohamad Oemar.
Salsabilla Angkat Kehidupan Masyarakat Maasai
Salsabilla Nur Feranti merupakan peneliti dengan latar belakang Rekayasa Kehutanan dan Biomanajemen dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia juga memiliki pengalaman akademik di Graduate School of Agriculture, Kyoto University, Jepang.
Saat ini, Salsabilla tercatat sebagai peneliti pada Yayasan Lokahita, organisasi yang bergerak dalam kajian lingkungan dan keberlanjutan. Ketertarikannya terhadap isu konservasi telah berkembang sejak perjalanan akademiknya dan diperkuat melalui fotografi sebagai medium untuk menyampaikan cerita tentang lingkungan.
Salah satu karya Salsabilla mengenai masyarakat Krui dan damar di Lampung pernah ditampilkan dalam kompetisi fotografi Asia-Pacific Rainforest Summit yang diselenggarakan CIFOR pada 2018.
Dalam program UNESCO dan vivo kali ini, Salsabilla mengirimkan seri foto berjudul “Shared Ground” yang diambil di Serengeti–Ngorongoro Biosphere Reserve, Tanzania.
Seri foto tersebut menampilkan kehidupan masyarakat Maasai, praktik pembuatan api secara tradisional, lanskap tempat masyarakat hidup, serta seekor cheetah yang beristirahat di bawah pohon saat matahari terbenam.
Menurut Salsabilla, pengalaman melihat kehidupan masyarakat Maasai yang berdampingan dengan alam mengingatkannya pada kekayaan pengetahuan lokal yang juga dimiliki Indonesia.
“Saya ingin mengajak orang-orang untuk melihat keberlanjutan sebagai pengetahuan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Salsabilla.
Ia berharap pencapaiannya dapat mendorong lebih banyak anak muda Indonesia untuk percaya bahwa cerita yang berada di sekitar mereka memiliki nilai dan relevansi yang dapat disampaikan kepada masyarakat dunia.
Veldesen Bawa Kisah Revitalisasi Budaya
Talenta muda Indonesia lainnya, Veldesen Yaputra, berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Pengalamannya menyaksikan dampak kebakaran hutan dan kabut asap di Kalimantan Barat turut membentuk ketertarikannya terhadap isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Setelah memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di Shenzhen, China, Veldesen menempuh pendidikan di Tsinghua University sejak 2020 dengan mempelajari Environmental Design. Saat ini, ia melanjutkan pendidikan magister arsitektur di universitas tersebut dengan perhatian pada bidang green building, sustainable architecture, dan rural revitalization.
Karya yang membawanya terpilih dalam program UNESCO dan vivo berjudul “From an Old House to New Hope: Youth and Villagers Reviving Mawei Embroidery”.
Karya tersebut lahir dari proyeknya bersama masyarakat Shui di Libo, Guizhou, China. Dalam proyek tersebut, Veldesen terlibat dalam upaya menghidupkan kembali sebuah rumah kayu tradisional menjadi ruang untuk membuat, mengajarkan, sekaligus memperkenalkan Mawei Embroidery.
“Bagi saya, konservasi bukan hanya menjaga masa lalu, tetapi menggunakan pengetahuan yang kita miliki untuk membantu warisan tersebut terus berkembang dan memiliki kehidupan baru bagi generasi berikutnya,” ujar Veldesen.
Pengalaman Veldesen di China juga diterapkan dalam konteks Indonesia. Dalam penelitian tesisnya, ia mengembangkan pendekatan serupa di Desa Tenganan, Bali, melalui kerja sama dengan Universitas Udayana.
Pendekatan tersebut mempertemukan konsep arsitektur hijau dan keberlanjutan dengan budaya, material, kebutuhan masyarakat, serta pengetahuan lokal Indonesia.
Storytelling Jadi Jembatan Konservasi
Latar belakang Salsabilla dan Veldesen yang berbeda menunjukkan semakin eratnya hubungan antara konservasi, kreativitas, ilmu pengetahuan, dan kemampuan generasi muda dalam membangun narasi.
Keduanya memandang konservasi bukan sekadar upaya mempertahankan masa lalu, melainkan ruang untuk mempertemukan pengetahuan lokal dengan ilmu pengetahuan, desain, fotografi, teknologi, dan media digital.
Dalam konteks tersebut, storytelling menjadi jembatan untuk membuat pengetahuan masyarakat lokal lebih mudah dipahami generasi baru sekaligus memberikan ruang bagi kisah-kisah tersebut untuk dikenal di tingkat global.
Bagi Indonesia, keterlibatan dua talenta muda tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan perspektif mengenai hubungan manusia, lingkungan, budaya, dan pengetahuan lokal kepada masyarakat internasional.
Sebagai tindak lanjut, Salsabilla dan Veldesen akan mengikuti UNESCO × vivo Co-Creation Camp di Tuscan-Emilian Apennine Biosphere Reserve, Italia, pada 31 Agustus hingga 6 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, keduanya akan bergabung dengan peserta muda dari berbagai negara dan para ahli storytelling. Program tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kemampuan bercerita, membangun jejaring internasional, serta bertukar pengalaman mengenai hubungan antara manusia dan alam.
Bagi Salsabilla dan Veldesen, kesempatan tersebut bukan sekadar penghargaan, tetapi juga ruang untuk membawa perspektif Indonesia ke tingkat global sekaligus membawa pulang pengetahuan, metode, jejaring, dan inspirasi baru.
“Indonesia tidak kekurangan cerita,” ujar Veldesen.
Menurutnya, tantangan generasi muda adalah bagaimana memanfaatkan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan media digital agar masyarakat lokal tetap menjadi pusat dari setiap kisah mengenai konservasi.
Dengan pendekatan tersebut, upaya mempromosikan konservasi tidak hanya bertujuan membuat suatu kawasan dikenal luas, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap masyarakat yang menjaga lingkungan, nilai-nilai yang diwariskan antargenerasi, serta pentingnya warisan tersebut bagi masa depan. (rw)


Tinggalkan Balasan