JAKARTA RAYA, Milan – Jason Ranti atau yang akrab disapa Jeje membawa pesan tentang keotentikan, kebebasan, dan penolakan terhadap obsesi kesempurnaan ketika tampil di Milan, Italia, pada 11 September 2026.

Di hadapan ratusan penonton, musisi sekaligus seniman tersebut tidak sekadar menyuguhkan musik. Ia juga membawa cara pandang yang berseberangan dengan budaya hidup serba terkurasi, terutama di tengah gempuran media sosial yang membuat kehidupan seolah harus selalu terlihat sempurna.

Penampilan Jeje di Milan menjadi bagian dari perjalanan lintas negara bertajuk “VINI VIDI HINI”, sebuah perjalanan persahabatan yang mengusung konsep “Semacam Rotasi Tongkrongan”.

Perjalanan tersebut dimulai dari Hamburg pada 2 September 2026, kemudian berlanjut ke Amsterdam pada 6 September, Paris pada 9 September, dan Milan pada 11 September.

Namun, perjalanan itu bukan sekadar agenda berpindah kota. Ada pesan sederhana yang dibawa Jeje dan rombongannya: menikmati perjalanan, menjaga pertemanan, serta meninggalkan kebencian dan persoalan pribadi sejenak.

Dalam perjalanan tersebut, Jeje menyampaikan pesan yang mengajak orang untuk tidak terjebak dalam konflik dan merasa paling benar.

“Sangat menyenangkan menjadi orang yang terbuka. Kita tidak merasa benar sendiri dan orang yang di luar saya salah, kalau saya pikir, itu bahaya, ujungnya berantem, hehehe,” ujar Jeje.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam perjalanan “VINI VIDI HINI”, yang mempertemukan persahabatan, musik, dan interaksi lintas budaya.

Sebagai lulusan psikologi yang kemudian memilih jalan sebagai seniman, Jeje dikenal dengan pandangan hidup yang tidak biasa. Salah satunya adalah keputusannya untuk tidak menggunakan telepon genggam selama sekitar empat tahun.

Ketika ditanya mengenai keputusannya tersebut, Jeje menjawab singkat. “Saya lebih terkoneksi dengan diri saya sendiri,” ujarnya.

Menurut Jeje, arus informasi yang masuk melalui perangkat digital tidak seluruhnya relevan dengan kehidupan seseorang. Bahkan, sebagian informasi dapat menjadi toksik karena telah melalui proses manipulasi. Pandangan tersebut kemudian terasa dalam penampilan Jeje di Milan.

Ratusan penonton menyaksikan sosok seniman yang tampil dengan karakter khasnya. Melalui musik dan lirik, Jeje menyentil berbagai fenomena kehidupan masa kini, mulai dari media sosial, budaya kurasi visual, obsesi terhadap kesempurnaan, hingga anggapan bahwa kehidupan harus selalu terlihat mapan dan estetik.

Penampilannya dibuka dengan pengantar dari jurnalis Italia, Elia Alovisi, yang memperkenalkan Jason Ranti sebagai salah satu seniman musik Indonesia yang dikenal hingga mancanegara.

Jeje kemudian membuka penampilan dengan “Jangan Tobat”, dilanjutkan dengan “Bismillah” dan “Jalan Ninja”.

Sejumlah karya lain turut dibawakan dalam pertunjukan tersebut, di antaranya “Variasi Pink”, “Blues Lendir”, “Dari Atas Sampai Bawah Ulangi Lagi”, “Syair Berdarah”, “Djatinangor”, “Lagunya Begini, Nadanya Begitu”, dan “Sekilas Info”.

Karya-karya tersebut menjadi bagian dari penampilan Jeje yang memperlihatkan karakter bermusiknya yang tidak berusaha mengikuti standar kesempurnaan tertentu. “Saya Hanya Menjalankan Takdir”

Penampilan di Eropa menjadi salah satu bukti bahwa karakter yang kuat dapat membawa seorang seniman menembus batas geografis dan budaya.

Namun, ketika ditanya apakah tampil di Eropa merupakan bentuk kemewahan hidup yang selama ini dicarinya, Jeje justru memberikan jawaban sederhana. “Saya hanya menjalankan takdir, jalan jauh dan main gitar, udah, gitu aja,” ujarnya santai.

Jawaban tersebut seolah merangkum cara Jeje memandang perjalanan hidup dan keseniannya: tidak terlalu sibuk mengejar citra, melainkan menjalani apa yang diyakininya.

Bagi Jeje, menjadi otentik tampaknya tidak harus diterjemahkan melalui sesuatu yang megah. Musik, perjalanan, pertemanan, dan kebebasan menjadi bagian dari cara dirinya mengekspresikan kehidupan.

Respons positif juga datang dari penonton yang hadir. Salah seorang perempuan berambut pirang mengaku menikmati penampilan Jeje malam itu. “I like it, because it’s very relaxing and chill,” ujarnya.

Usai pertunjukan berakhir, suasana di lokasi belum langsung sepi. Para penonton masih berkumpul, berbincang, tertawa, dan menikmati suasana malam Milan.

Musik Jason Ranti menjadi pengikat suasana malam tersebut. Di tengah kota yang dikenal sebagai salah satu pusat mode dunia, Jeje justru hadir dengan pendekatan yang berbeda: merayakan ketidaksempurnaan, kebebasan berekspresi, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Perjalanan “VINI VIDI HINI” pun menjadi lebih dari sekadar rangkaian kunjungan ke sejumlah kota Eropa. Bagi Jeje dan rombongannya, perjalanan tersebut menjadi ruang untuk bertemu, berkarya, tertawa, dan menikmati hidup tanpa harus terus-menerus mengkurasi bagaimana semuanya terlihat di mata orang lain. (rw)