Oleh: Wawat Kurniawan (Weka Institut)

JAKARTA RAYA – Ada sebagian orang mengatakan rezim Iran itu berbahaya bagi keamanan dunia. Itu menurut Amerika. Padahal, Amerika memakai nuklir untuk membunuh manusia. Seperti di Hirosima dan Nagasaki.

Amerika juga melakukan kudeta. Menculik kepala negara lain. Membunuh pemimpin negara lain. Semua itulah kejahatan kebangsaan.

Sampai di sini, saya kehilangan defenisi BERBAHAYA dan KEAMANAN DUNIA.

Iran dituduh Israel (Netanyahu/Mileikowsky) memiliki nuklir sejak 1980-an. Dituduh juga berbahaya bagi keamanan Global. Namun faktanya, hingga 2026, semua tuduhan itu tidak terbukti.

Hingga akhirnya, pada bulan Maret 2026, Israel bersama Amerika menembakkan ratusan rudal, termasuk Tomahawks, ke Teheran. Hingga menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khameini.

Juga membunuh ratusan anak-anak Iran yang sedang bersekolah di pagi hari, di tengah perundingan damai yang diajukan Amerika pada Iran di Geneva.

Nah, di sini saya mulai menemukan apa itu devinisi BERBAHAYA dan KEAMANAN DUNIA. Setidaknya versi mereka: Amerika dan Israel.

Lalu, apa sih yang dimaksud rezim Iran itu?

Iran Pasca Revolusi 1979: Fokus Iran adalah bertahan hidup. Boro-boro mikirin nuklir. Karena Setelah Revolusi 1979, Iran menghadapi instabilitas internal, sanksi ekonomi Barat dan Amerika, serta di depak dari sistem keuangan barat (SWIFT), dan menghadapi Perang Iran–Irak (1980–1988).

Pada fase ini, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bahkan tidak diekspor keluar negeri. Prioritas utama adalah konsolidasi rezim dan pertahanan domestik dari kemungkinan perpecahan dan kudeta (pengalaman bangsa iran sebelumnya, tiap rezim dijatuhkan Barat setelah menasionalisasi Minyak dan Gas dari perusahaan Amerika dan Inggris).

Ketika Iran menasionalisasi (era Mossadegh 1953) dan melakukan revolusi (1979), mereka dianggap berbahaya. Bukan karena menyerang negara lain, tetapi karena keluar dari sistem kendali Barat.

Lebanon: keterlibatan paling awal, tapi kontekstual (awal 1980-an). Keterlibatan Iran di Lebanon terjadi setelah invasi Israel ke Lebanon (1982).

Di sini, IRGC mengirim penasehat. Bukan pasukan reguler besar. Penasehat yang bertugas membantu pembentukan Hezbollah.

Tujuannya: mengantisipasi resistensi terhadap pendudukan wilayah oleh Israel, bukan ekspansi wilayah Iran. Ini asimetri strategis, bukan kolonisasi.

Di Irak: Iran tidak memiliki kehadiran berarti selama Saddam Hussein berkuasa. Pengaruh Iran baru meningkat setelah invasi Amerika ke Irak (2003).

Yang dilakukan Iran adalah kerja sama dengan kelompok Syiah local. Memberikan dukungan politik, logistik, dan penasihat. Bukan penempatan resmi pasukan Iran sebagai tentara pendudukan.

Di Yaman: keterlibatan paling belakangan dan terbatas. Di Yaman, Iran juga tidak menempatkan IRGC sebagai pasukan tempur terbuka. Dukungan pada Houthi movement bersifat politik, logistik terbatas, dan simbolik strategis.

Bahkan banyak analis independen menyebut pengaruh Iran di Yaman sering dibesar-besarkan dalam narasi geopolitik. Pola besarnya adalah “Pengaruh”, bukan pendudukan.

Strategi Iran pasca-1979 adalah: tidak menduduki negara lain, tidak membangun koloni, dan tidak memperkaya uranium selain sebagai infrastruktur listrik paska sanksi ekonomi barat. Alasannya, karena Iran harus bertahan hidup.

Iran Membangun jaringan pengaruh regional sebagai mekanisme pertahanan asimetris terhadap kepentingan: Israel, Amerika Serikat dan sekutunya.

Keliru: Jika Iran sejak 1979 disebut menempatkan Garda Revolusi sebagai pasukan pendudukan di Yaman, Lebanon, dan Irak.

Yang Benar: Iran secara bertahap membangun poros “pengaruh” melalui aktor lokal, terutama setelah terjadi kekosongan kekuasaan atau agresi eksternal.

Ringkasnya, Iran tidak mengekspor revolusi lewat pendudukan militer, tetapi lewat pengaruh politik–keamanan berbasis aktor lokal. (*)