Oleh: Wawat Kurniawan (Weka Institut)
JAKARTA RAYA – Kekacauan terjadi di acara White House Correspondents’ Dinner di Washington D.C. setelah seorang penembak melepaskan tembakan, Sabtu (25/4/2026) malam.
Presiden Amerika, Donald Trump, langsung dievakuasi. Sementara para tamu berlindung dan tim taktis bergegas ke lokasi kejadian.
Baik Trump maupun Wakil Presiden JD Vance dilaporkan tidak mengalami cedera. Tersangka kini telah ditangkap. Satu orang tewas di tempat, satu lagi ditahan.
Jika suara tembakan masih terdengar, itu artinya Presiden Trump masih aman. Karena sesungguhnya target utamanya bukan jiwa Trump. Tapi narasi.
Karena jika hendak membunuh Trump, saya pastikan tembakan tidak akan mengeluarkan suara sama sekali. Jadi itu hanya peringatan. Kalaupun mengeluarkan suara, semua sudah terlambat.
Kejadian ini terjadi di tengah suasana politik yang sangat panas, terkait desakan Trump untuk menghapus Filibuster dan pengesahan SAVE America Act.
Pesan Psikologis (Peringatan)
​Suara tembakan di tengah acara publik sekelas White House Correspondents’ Dinner adalah cara paling “MURAH” dan efektif untuk menghancurkan ilusi keamanan di pusat kekuasaan.
Ini bukan tentang peluru yang mengenai target. Tapi tentang getaran ketakutan yang dirasakan oleh seluruh kabinet dan media yang hadir.
Secara taktis: peralatan yang professional, pasti tidak bersuara. Ketika ada suara, berarti ada narasi yang sedang dibangun untuk didengar oleh telinga publik dan elit politik.
Psychological Operations (PsyOps).
Di Washington saat ini, sebuah peluru yang meleset sering kali memiliki daya ledak politik yang lebih besar daripada peluru yang mengenai sasaran.
Setelah “peringatan suara” ini, apakah Senat akan menyerah pada tekanan untuk menghapus Filibuster, atau justru akan muncul perlawanan yang lebih keras, karena langkah ini dianggap sebagai bagian dari skenario untuk memperkuat kontrol. (*)


Tinggalkan Balasan