JAKARTA RAYA – Sebagai seorang etnografer, saya sering berkeliling dunia mencari esensi dari ekspresi budaya manusia. Namun, apa yang saya temukan di Desa Cempluk, Malang, benar-benar meruntuhkan batas teori musik modern.
Di tangan musisi lokal, potongan kayu sisa dan bahan daur ulang yang awalnya tidak berharga disulap secara manual menjadi Dawai Cempluk—sebuah instrumen kontemporer yang sarat akan pesan ekologis.
Musik bukan lagi sekadar warisan masa lalu, melainkan sebuah respons adaptif yang lahir dari kreativitas tanpa batas warga lokal.
Menonton alat musik ini dimainkan langsung di tanah kelahirannya terasa seperti mendengarkan bumi sedang berbicara lewat dawai. Meraviglioso!
Di Italia, kami memiliki tradisi panjang sekolah pembuatan instrumen musik klasik yang sangat ketat.
Tapi di Kampung Cempluk, Jawa Timur, aturan itu dipatahkan dengan keindahan yang murni. Saya dibuat takjub oleh ketekunan para perajin lokal di sini.
Hanya bermodalkan insting, alat sederhana, dan bahan daur ulang, mereka bisa melahirkan Dawai Cempluk dengan harmoni suara yang begitu kaya dan magis.
Ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bahan justru memicu puncak kreativitas manusia. (Rieska Wulandari)


Tinggalkan Balasan