JAKARTA RAYA– Cemas mendalam menyelimuti Dicky Arisandi, Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga DPP GPIB (Gerakan Pendidikan Indonesia Baru).

Ia melihat pergeseran berbahaya yang kini melanda dunia pendidikan nasional: nilai dasar etika, kepribadian, sopan santun, hingga rasa hormat kepada pendidik perlahan memudar, digantikan oleh ambisi tampil di permukaan saja.

“Gedung sekolah kini bukan lagi tempat untuk menanam ilmu dan membentuk karakter, melainkan berubah menjadi panggung audisi tanpa henti,” tegas Dicky.

Menurutnya, pola pengelolaan lembaga pendidikan saat ini perlahan menyerupai manajemen bakat artis: yang dikejar adalah penampilan menarik, sorotan publik, dan jumlah penonton bukan kedalaman pemahaman maupun keteguhan moral.

Inilah yang disebutnya sebagai kecanduan validasi: keberhasilan diukur hanya dari seberapa banyak orang melihat dan memuji, bukan dari seberapa besar ilmu dan manfaat yang dimiliki.

Viral Dianggap Sukses, Isi Pendidikan Justru Kosong

Ada perbedaan sangat mencolok antara masa lalu dan masa kini. Dulu, prestasi adalah bukti kerja keras dan penguasaan ilmu. Sekarang? Viral dianggap sebagai ukuran kesuksesan utama.

Banyak pihak berlomba-lomba menampilkan atraksi, tarian, atau konten yang memancing perhatian, tanpa memikirkan apakah ada nilai edukasi di dalamnya.

“Kita menyaksikan ironi yang memilukan: siswa bisa tampil berani tanpa rasa gugup sedikit pun di depan kamera jutaan orang, namun saat ditanya soal pelajaran matematika tingkat Sekolah Dasar pun mereka yang sudah duduk di bangku SMA tidak mampu menjawabnya,” ungkap Dicky dengan nada prihatin.

Ini adalah bukti nyata terjadinya degradasi kualitas pendidikan. Sekolah seolah terjebak dalam ilusi: sibuk menggelar kegiatan yang terlihat bagus di laporan dan media sosial, namun melupakan tugas utamanya mencerdaskan generasi.

Pencapaian prestasi yang dibangun di atas kemampuan nyata perlahan digantikan oleh perburuan tepuk tangan sesaat.

Apa yang Terjadi pada Sekolah Kita Saat Ini?

Fenomena ini didorong oleh beberapa hal yang kini makin merajalela:

  • Fokus pada citra daripada substansi: Sekolah berlomba tampil “keren” di media sosial, sehingga banyak waktu pelajaran terpakai untuk persiapan konten dan penampilan, bukan memperdalam materi.
  • Nilai sosial terbalik: Siswa yang pandai berprestasi seringkali kurang diperhatikan, sementara yang populer atau viral justru dijadikan teladan, tanpa melihat akhlak dan kemampuannya.
  • Lupa membangun karakter: Sopan santun, menghargai orang lain, dan tanggung jawab jarang lagi menjadi fokus penilaian. Yang penting terlihat rapi dan menarik di layar.
  • Tekanan kompetisi yang salah arah: Sekolah pun terdorong mengejar popularitas demi nama baik lembaga dan dukungan, sehingga mengorbankan kualitas proses belajar.

Peringatan untuk Semua Pihak

Dicky mengingatkan: popularitas dan pujian semata tidak akan menjamin masa depan bangsa.

Pendidikan sejati bukan soal seberapa bagus kita terlihat di mata orang lain, melainkan seberapa kokoh ilmu, luhur budi pekerti, dan tangguh mental yang kita miliki.

“Jangan biarkan generasi kita terlatih menjadi aktor yang pandai berakting, namun lemah dalam berpikir dan tak punya pegangan moral. Mari kembalikan hakikat sekolah: sebagai rumah untuk menumbuhkan orang yang cerdas hatinya, tajam pikirannya, dan mulia akhlaknya,” tutupnya. (MAN)