JAKARTA RAYA, Milan – Pesan spiritual dan kebudayaan yang disampaikan Paus Leone XIV dari Teatro alla Scala, Milan, Italia, mengingatkan dunia bahwa warisan budaya tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu atau komoditas ekonomi. Lebih dari itu, kebudayaan harus dijaga dan dikembangkan untuk melayani manusia, menghormati martabatnya, serta menjawab dahaga manusia akan kebenaran.

Pesan tersebut disampaikan melalui surat Sekretariat Negara Vatikan dalam pembukaan acara Futura – Nuovi sguardi per la Cultura atau Masa Depan: Cara Pandang Baru untuk Kebudayaan. Amanat Paus dibacakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Wilayah Lombardia, Francesca Caruso.

Dalam pesannya, Paus Leone XIV menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya, khususnya di wilayah Lombardia, agar tetap berpihak pada manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia juga menyoroti keindahan artistik dan pemikiran budaya sebagai manifestasi penting dari kehidupan spiritual.

Paus mengingatkan bahwa iman Kristiani selama berabad-abad turut membentuk perjalanan seni, sastra, dan puisi Italia. Ia berharap refleksi mengenai kebudayaan dapat mendorong lahirnya masyarakat yang lebih bersaudara, terbuka, dan penuh harapan.

Pesan pemimpin Gereja Katolik tersebut memiliki relevansi yang luas, termasuk bagi Indonesia yang memiliki keragaman tradisi, bahasa, seni, dan ekspresi keagamaan. Di tengah modernisasi dan digitalisasi, warisan budaya lokal perlu ditempatkan bukan semata-mata sebagai daya tarik pariwisata atau tontonan estetis, melainkan sebagai bagian dari identitas dan martabat masyarakat.

Wayang, batik, tari tradisional, sastra daerah, hingga arsitektur rumah adat menyimpan nilai, pengetahuan, dan pandangan hidup yang diwariskan lintas generasi. Ketika kebudayaan hanya dinilai berdasarkan nilai jual atau popularitasnya, ada risiko makna sosial dan spiritual yang terkandung di dalamnya semakin terpinggirkan.

Pesan Paus Leone XIV mengajak masyarakat untuk melihat kembali substansi kebudayaan: bagaimana warisan tersebut dapat melayani kehidupan manusia, menjaga kehormatannya, dan memperkuat hubungan antarsesama.

Dalam konteks Indonesia yang berlandaskan Pancasila, pandangan tersebut sejalan dengan nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Merawat kebudayaan berarti juga menghargai manusia dan komunitas yang melahirkan, menjaga, serta meneruskannya. Kebudayaan bukan benda mati, melainkan hasil perjalanan hidup masyarakat.

Hubungan antara agama, kepercayaan, dan kebudayaan di Indonesia juga terjalin erat. Ekspresi religius masyarakat kerap hadir melalui bentuk-bentuk budaya yang berkembang di lingkungan masing-masing.

Masjid Menara Kudus, misalnya, memperlihatkan pertemuan unsur arsitektur Hindu dan Islam. Sementara itu, Gereja Hati Kudus Yesus di Ganjuran, Yogyakarta, menghadirkan ekspresi iman Katolik dalam balutan arsitektur dan simbol budaya Jawa.

Kekayaan serupa juga terlihat dalam sastra dan tradisi lisan Nusantara. Karya para pujangga, pantun, serta petatah-petitih daerah menjadi sarana untuk menyampaikan nilai kebijaksanaan, kebaikan, dan kehidupan spiritual. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan antara keyakinan, sejarah, dan kehidupan sosial.

Dari perspektif religius, merawat kebudayaan daerah juga berarti menghargai rekam jejak spiritualitas para leluhur dalam mencari makna kehidupan, kebenaran, dan hubungan dengan Sang Pencipta. Kebudayaan menjadi jembatan horizontal yang menghubungkan manusia dengan sesamanya sekaligus ruang refleksi vertikal mengenai relasi manusia dengan Tuhan.

Harapan Paus agar kebudayaan mampu edificare una società fraterna atau membangun masyarakat yang bersaudara juga relevan dengan Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, dan tradisi. Di tengah berbagai tantangan perbedaan dan polarisasi, kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat rasa saling menghormati.

Indonesia merupakan bangsa dengan kekayaan kultural yang sangat besar. Setiap kelompok masyarakat memiliki tradisi dan cara pandang yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan apabila kebudayaan kelompok lain dipahami sebagai bagian dari kekayaan bersama, bukan sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan.

Semangat nuovi sguardi atau cara pandang baru yang diusung dalam forum kebudayaan di Milan dapat dimaknai sebagai ajakan untuk melihat tradisi secara lebih terbuka. Masyarakat perlu belajar menghargai warisan budaya di luar lingkungannya sendiri sebagai bagian dari kekayaan rohani dan identitas bangsa.

Dalam semangat Fratelli Tutti, ensiklik Paus Fransiskus tentang persaudaraan dan persahabatan sosial, kebudayaan dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun hubungan yang melampaui sekat identitas. Iman dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat tidak harus saling meniadakan, tetapi dapat menjadi sumber nilai untuk membangun kehidupan bersama.

Pada akhirnya, pesan Paus Leone XIV mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pelestarian budaya bukan hanya terletak pada seberapa banyak warisan yang dipertontonkan atau menghasilkan nilai ekonomi. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana kebudayaan mampu menjaga martabat manusia, menumbuhkan penghormatan terhadap perbedaan, dan membangun persaudaraan.

Ketika masyarakat menjaga budaya lokal, sesungguhnya mereka juga sedang merawat ingatan, nilai, dan kehormatan manusia yang menciptakannya. Kebudayaan akan tetap hidup apabila mampu memberi makna bagi manusia masa kini sekaligus diwariskan kepada generasi mendatang. (rw)