Oleh: Wawat Kurniawan – Weka Institut
Logika sederhananya:
Memanaskan seember air di atas kompor saja butuh waktu dan energi besar, apalagi menguapkan sungai raksasa berusia ratusan tahun yang membentang ratusan kilometer.
Air sungai ini hilang bukan karena dimasak dari atas, melainkan karena kerannya di hulu dimatikan, AIRNYA DIPENJARA di lubang-lubang raksasa bekas penggalian Tambang dan pipa pembuangannya di hilir dibuka lebar-lebar.
Secara akademis, fenomena “keringnya” Barito adalah MAHAKARYA KEGAGALAN tata kelola hidrologi dan bencana ekologi terencana yang dibungkus dengan alasan klasik: cuaca ekstrem.
Di Hulu: “Spons” Raksasa Dirusak
Dahulu, hutan hujan tropis di hulu berfungsi sebagai benteng hidro-orologis—spons alami yang menyerap ribuan kubik air hujan untuk dialirkan perlahan saat musim kering.
Kini, alih fungsi lahan menjadi konsesi ekstraktif telah mencabut fungsi spons tersebut. Tanpa penahan, air hujan langsung lari menjadi banjir di musim basah, meninggalkan hulu kehabisan cadangan air tanah saat kemarau tiba.
Di Area Konsesi: Danau-Danau Buatan Pembegal Air (Void Tambang)
Inilah pemicu utama yang sering kali luput dari narasi resmi: ribuan lubang galian tambang batu bara (void) menganga di sepanjang DAS.
Saat hujan turun, jutaan meter kubik air yang seharusnya mengalir menyegarkan batang utama Sungai Barito justru terjebak dan terperangkap di dalam kolam-kolam raksasa bekas galian tanpa reklamasi ini.
Air ini mati di tempat, beracun, dan tidak pernah kembali ke aliran sungai. Kita secara harfiah telah merampas darah penyuplai sungai dan memenjarakannya di kolam-kolam privasi korporasi.
Di Hilir: Akselerasi Pembuangan
Di sisi hilir, pengerukan alur demi mulusnya lalu lintas tongkang batu bara dan pemotongan belokan sungai bekerja bak pintu drainase raksasa.
Air yang tersisa di batang sungai langsung meluncur deras tanpa hambatan menuju muara laut, melayani kepentingan logistik ketimbang menjaga kestabilan neraca air kawasan.
Di Dasar Sungai: Mangkuk yang Bertambah Dangkal
Erosi masif dari tanah hutan gundul di hulu bermuara pada sedimen pasir dan lumpur yang mengendap bertahun-tahun di dasar sungai.
Ketika debit air drop 70%, yang kita lihat dari atas jembatan bukanlah “tanah yang mengering hingga ke dasar bumi”, melainkan gundukan pasir (gosong) hasil akumulasi erosi yang akhirnya menampakkan diri.
Secara metaforik, kita telah menebang atap rumah (hutan hulu), menggali ribuan bak penampung liar di pekarangan untuk mencuri airnya (void tambang), menimbun lantainya dengan sampah tanah (sedimentasi), lalu memperbesar lubang pembuangan airnya (pengerukan hilir).
Saat airnya habis terbuang ke laut dan dasar sungainya mencuat, kita dengan lugunya menunjuk langit sambil menyalahkan cuaca.
Sungai Barito tidak sedang mengering; ia sedang dirampok KESERAKAHAN Elit, hingga aliran airnya di hulu dan dipaksa membuang sisa dirinya ke laut.
:: WeKa ::


Tinggalkan Balasan