JAKARTA RAYA, Depok – Anggota Komisi C DPRD Kota Depok, Imam Musanto, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pembangunan Puskesmas Pancoran Mas, Selasa (1/9/2026). Sidak dilakukan setelah pihaknya menerima laporan warga terkait berkurangnya tenaga kerja lokal yang dilibatkan dalam proyek tersebut.
Proyek pembangunan Puskesmas Pancoran Mas berada di depan Hutan Kota Depok. Imam mengatakan, keterlibatan warga sekitar dalam proyek pembangunan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Menurutnya, pada tahap awal pembangunan terdapat sekitar 12 warga sekitar yang bekerja dalam proyek tersebut. Namun, jumlah tersebut kemudian berkurang menjadi lima orang.
“Selama ini pekerja kan harus ada serapan tenaga kerjanya 30 persen dari masyarakat lokal. Kemarin waktu awal pekerjaan mereka menyerap sekitar 12 orang pekerja dari masyarakat sekitar. Namun, mendapat laporan katanya jumlah pekerjanya ada pengurangan. Karena itu, Komisi C DPRD Kota Depok langsung melakukan sidak,” ujar Imam saat ditemui di lokasi.
Dari hasil pengecekan, Imam membenarkan adanya pengurangan jumlah pekerja yang berasal dari masyarakat sekitar. Menurutnya, pengurangan tersebut terjadi karena proyek mulai memasuki tahapan pekerjaan yang membutuhkan tenaga dengan keahlian tertentu.
“Sejak akhir bulan Juli masuk 12 orang pekerja dari warga sekitar, sekarang tinggal lima orang. Alasannya karena mereka tidak bisa mengikuti pola kerja proyek,” katanya.
Imam mengatakan pembangunan Puskesmas Pancoran Mas saat ini mulai memasuki tahapan teknis yang membutuhkan keterampilan dan ketelitian. Karena itu, tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan proyek diperlukan untuk menjaga kualitas pekerjaan.
“Saat ini pengerjaan fisik puskesmas sudah memasuki tahapan teknis yang krusial. Oleh karena itu, keterlibatan tenaga kerja terampil sangat dibutuhkan demi menjaga kualitas bangunan. Yang diharapkan adalah tenaga ahli, tenaga yang memang mumpuni di bidangnya,” jelas politikus Fraksi PKS dari daerah pemilihan Pancoran Mas tersebut.
Imam menegaskan pengurangan tenaga kerja lokal tersebut bukan berarti warga sekitar tidak memiliki kesempatan untuk kembali terlibat. Menurutnya, warga yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan pekerjaan tetap dapat dilibatkan.
“Ini jelas bukan pemecatan, melainkan pengurangan terarah untuk memilih pekerja yang benar-benar profesional. Tahap teknik sipil ini membutuhkan presisi tinggi. Jadi, warga lokal yang memenuhi kualifikasi sesuai kebutuhan Pimpro tetap dipersilakan bekerja,” ujarnya.
Untuk mencari solusi, Imam menyatakan akan menjembatani komunikasi antara pihak pelaksana proyek dengan masyarakat, khususnya warga RW 02 Pancoran Mas.
Ia menilai pembangunan Puskesmas Pancoran Mas merupakan fasilitas yang telah lama diharapkan masyarakat. Keberadaan puskesmas tersebut diharapkan dapat mendekatkan akses pelayanan kesehatan bagi warga yang selama ini harus menuju fasilitas kesehatan di kawasan Jalan Pemuda atau Jalan Kartini.
“Ini dambaan masyarakat Pancoran Mas. Kalau ke Puskesmas Jalan Pemuda atau Jalan Kartini terlalu jauh. Kami anggota dewan dari Dapil Pancoran Mas meminta puskesmas ada di sini,” kata Imam.
Menurutnya, pembangunan fasilitas kesehatan tersebut menggunakan APBD Kota Depok sehingga DPRD memiliki fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan proyek.
Ia juga mengatakan secara umum progres pembangunan masih berjalan sesuai tahapan, meskipun terdapat sejumlah penyesuaian selama proses pembangunan, termasuk dalam hal sosialisasi kepada masyarakat.
“Kami di dewan ada fungsi pengawasan. Kami melihat langsung kondisi di lapangan, bagaimana progresnya dan apakah sudah sesuai dengan alur waktu atau timeline-nya. Kami berusaha agar ini selesai tepat waktu sehingga bisa dipergunakan dan masyarakat bisa menikmati layanan kesehatan,” ujarnya.
Selain persoalan tenaga kerja, Imam juga menyebut pihaknya menerima sejumlah masukan dari masyarakat terkait lingkungan sekitar proyek, termasuk akses dan saluran air. Aspirasi tersebut akan dikoordinasikan dengan pihak terkait untuk mencari solusi yang sesuai kebutuhan warga.
Sementara itu, Kepala Proyek Puskesmas Pancoran Mas dari CV Firmauli Farida, Hotlan Siregar, membenarkan bahwa pada tahap awal pembangunan pihaknya melibatkan sekitar 12 tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
Namun, seiring perkembangan pekerjaan, sebagian tenaga kerja tersebut dikurangi karena dinilai belum sesuai dengan kebutuhan teknis proyek.
“Dalam hal ini, kami sudah menyerap 30 persen tenaga kerja dari warga sekitar. Tapi, dalam perjalanannya sebagian ada yang tidak bisa mengikuti pola kerja proyek. Akhirnya, mereka kami kurangi dan menggantinya dengan orang-orang yang memiliki keahlian di bidangnya dengan tujuan agar bisa selesai pada Desember 2026,” ujar Hotlan.
Ia menjelaskan, pembangunan Puskesmas Pancoran Mas merupakan salah satu proyek yang menjadi perhatian karena berkaitan dengan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Target penyelesaian proyek ditetapkan pada Desember 2026. Karena itu, pihak pelaksana berupaya mengejar progres pekerjaan, terutama menjelang periode musim hujan yang berpotensi menghambat pekerjaan konstruksi.
“Bulan September, Oktober, dan November ini rentan dengan hujan. Untuk itu, kami mengejar terus pengerjaannya dan bulan Desember harus selesai. Para pekerjanya pun harus memiliki kemampuan di bidang masing-masing,” jelasnya.
Hotlan menambahkan, keterlibatan masyarakat sekitar tetap menjadi perhatian selama pembangunan berlangsung. Warga yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan proyek berpeluang untuk dilibatkan dalam pekerjaan.
“Kami berharap keberadaan Puskesmas Pancoran Mas ini juga bisa membuka peluang kerja bagi warga sekitar,” pungkasnya. (ema)


Tinggalkan Balasan